
LDII Aceh – Ada satu penyakit yang tidak terlihat, tidak menimbulkan rasa sakit secara fisik, namun mampu merusak seluruh amal kebaikan yang telah susah payah dibangun. Penyakit itu tidak membuat tubuh lemah, tetapi membuat hati kehilangan arah. Ia hadir tanpa suara, tumbuh tanpa disadari, dan seringkali justru muncul saat seseorang merasa sedang berada di puncak kebaikan. Itulah ujub dan riya’—dua penyakit hati yang kerap dianggap sepele, padahal dampaknya sangat besar dalam kehidupan seorang Muslim.
Ujub adalah perasaan bangga terhadap diri sendiri, merasa amalnya banyak, merasa lebih baik dari orang lain. Sementara riya’ adalah melakukan amal dengan tujuan dilihat, dipuji, atau dihargai manusia. Keduanya berbeda, tetapi sering berjalan beriringan. Ujub tumbuh di dalam hati, sedangkan riya’ tampak dalam perilaku. Ujub bisa menjadi akar, dan riya’ adalah buahnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan bahaya riya’ dalam firman-Nya:
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ayat ini bukan hanya teguran, tetapi peringatan keras. Bahkan ibadah sebesar shalat bisa menjadi sebab kecelakaan jika dicampuri riya’. Artinya, yang dinilai bukan hanya perbuatan, tetapi juga niat di baliknya.
Rasulullah ﷺ pun sangat mengkhawatirkan riya’ bagi umatnya. Dalam sebuah hadits, beliau bersabda:
“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad)
Disebut sebagai “syirik kecil” karena riya’ menjadikan manusia sebagai tujuan, bukan Allah. Amal yang seharusnya menjadi ibadah berubah menjadi pertunjukan.
Sementara ujub, meskipun lebih tersembunyi, bahayanya tidak kalah besar. Ujub dapat menghapus pahala karena seseorang merasa amalnya sudah cukup, bahkan merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian tidak berbuat dosa, aku khawatir kalian akan ditimpa sesuatu yang lebih besar, yaitu ujub.” (HR. Al-Baihaqi)
Ujub membuat seseorang berhenti memperbaiki diri. Ia merasa sudah baik, sudah cukup, bahkan mungkin lebih baik dari orang lain. Padahal, dalam pandangan Allah, belum tentu demikian.
Salah satu kisah yang sering dijadikan pelajaran adalah tentang seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil. Ia begitu tekun beribadah selama bertahun-tahun. Namun suatu hari, ia mulai merasa bangga dengan amalnya. Ia memandang rendah orang lain yang dianggapnya kurang taat. Ketika meninggal, amalnya tidak menyelamatkannya karena hatinya telah rusak oleh ujub. Kisah ini menjadi pengingat bahwa bukan banyaknya amal yang menentukan keselamatan, tetapi keikhlasan di dalamnya.
Sebaliknya, para sahabat Nabi justru menunjukkan sikap yang sangat jauh dari ujub. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang dijamin surga, masih sering merasa takut jika amalnya tidak diterima. Ia bahkan berkata, “Seandainya ada suara dari langit yang mengatakan semua manusia masuk surga kecuali satu orang, aku khawatir orang itu adalah aku.” Rasa takut ini bukan kelemahan, melainkan bukti kuatnya iman dan kesadaran akan pentingnya keikhlasan.
Bahaya ujub dan riya’ tidak hanya menghapus pahala, tetapi juga merusak hubungan sosial. Orang yang riya’ akan sibuk mencari pengakuan, bukan manfaat. Ia mudah kecewa ketika tidak dipuji. Sementara orang yang ujub cenderung meremehkan orang lain, sulit menerima nasihat, dan merasa dirinya paling benar. Kedua sifat ini perlahan-lahan menghancurkan hati dan menjauhkan seseorang dari rahmat Allah.
Lalu bagaimana cara menghindarinya?
Pertama, memperbaiki niat sebelum, saat, dan setelah beramal. Niat bukan sesuatu yang sekali selesai, tetapi harus terus diperbarui. Selalu tanyakan dalam hati: “Untuk siapa aku melakukan ini?”
Kedua, menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Allah. Tanpa pertolongan-Nya, seseorang tidak akan mampu berbuat baik. Kesadaran ini akan mematahkan rasa ujub.
Allah berfirman:
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya).” (QS. An-Nahl: 53)
Ketiga, menyembunyikan amal sebisa mungkin. Amal yang tidak diketahui orang lain lebih dekat kepada keikhlasan. Jika pun harus tampak, pastikan hati tetap lurus.
Keempat, memperbanyak doa agar dijauhkan dari riya’ dan ujub. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dengan sesuatu yang aku ketahui, dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Terakhir, selalu mengingat bahwa yang dinilai oleh Allah bukanlah penampilan luar, tetapi hati. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Ujub dan riya’ adalah ujian bagi setiap orang yang beramal. Semakin besar amal seseorang, semakin besar pula godaannya. Maka menjaga hati menjadi lebih penting daripada sekadar menambah amal. Karena bisa jadi, amal yang sedikit namun ikhlas lebih bernilai daripada amal besar yang tercampuri riya’.
Di tengah dunia yang penuh dengan panggung dan pengakuan, keikhlasan menjadi sesuatu yang langka. Namun justru di situlah letak kemuliaannya. Amal yang dilakukan diam-diam, tanpa pujian, tanpa sorotan, tetapi tulus karena Allah—itulah yang akan bertahan, bahkan ketika semua yang lain telah hilang.
Dan di situlah, hati menemukan ketenangannya.
