
Jakarta, (16/4) – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) melakukan audiensi dengan Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Polpum) Kementerian Dalam Negeri, Akmal Malik, dalam rangka menyampaikan hasil Musyawarah Nasional (Munas) X sekaligus memperkuat sinergi program strategis nasional, khususnya di bidang ketahanan pangan dan pemberdayaan masyarakat.
Dalam pertemuan tersebut, Akmal Malik menyampaikan apresiasinya terhadap kepengurusan baru LDII pascamunas. Ia menilai LDII memiliki keunggulan dalam menggabungkan dakwah lisan dan aksi nyata di tengah masyarakat. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi kekuatan utama organisasi dalam memberikan dampak langsung.
“Ini merupakan kehormatan bagi kami menerima kepengurusan LDII yang baru. Kami mengapresiasi konsep dakwah LDII, khususnya dakwah bil hal yang sangat kuat. Ini yang justru memiliki dampak besar di masyarakat,” ujar Akmal Malik.
Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan dalam menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Akmal bahkan mengajak LDII untuk terlibat dalam proyek percontohan pengelolaan lahan pertanian dengan komoditas strategis seperti jagung, sorgum, dan padi.
Lebih lanjut, Akmal menekankan bahwa kerja sama tidak harus selalu diawali dengan kesepakatan formal semata. Ia mendorong langkah konkret yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Yang terpenting adalah niat baik dan aksi. Banyak MoU hanya berhenti di atas kertas. Kita ingin langsung bergerak,” tegasnya.
Selain itu, ia mengungkapkan rencana penguatan kapasitas generasi muda LDII melalui pelatihan di sektor pertanian modern. Program tersebut direncanakan menggandeng kalangan akademisi, termasuk dari Institut Pertanian Bogor (IPB), guna meningkatkan kompetensi di bidang agrikultur berbasis teknologi.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, Dody Taufiq Wijaya, menyambut baik dukungan dari Kementerian Dalam Negeri. Ia menilai langkah yang diambil Dirjen Polpum bersifat konstruktif dan membuka peluang besar bagi pengembangan program LDII.
Dody menjelaskan bahwa ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan merupakan bagian dari delapan program pengabdian LDII yang sejalan dengan kebijakan pemerintah. Ia menyebutkan berbagai program yang telah berjalan, seperti urban farming, smart farming, hingga konsep zero waste di lingkungan pesantren LDII.
“Program ketahanan pangan dan lingkungan memang menjadi bagian dari delapan program pengabdian LDII untuk bangsa, yang juga sejalan dengan program pemerintah,” ungkap Dody.
Ia menambahkan, program-program tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemandirian pangan, tetapi juga membekali para santri dengan keterampilan hidup yang aplikatif.
“Harapannya, para santri setelah kembali ke masyarakat dapat menerapkan ilmu tersebut dan memberikan manfaat nyata di lingkungannya. Dakwah bil hal harus terus berkelanjutan hingga ke tingkat akar rumput,” jelasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat sinergi antara pemerintah dan LDII. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong terwujudnya masyarakat yang mandiri, produktif, dan berdaya saing, terutama dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
