
LDII Aceh – Ada satu kegelisahan yang sering tak kita sadari yaitu hidup terasa berat bukan karena kekurangan, melainkan karena keinginan yang tak pernah selesai. Setiap hari mata kita disuguhi pencapaian orang lain, keberhasilan yang tampak gemerlap, dan standar hidup yang terus naik. Tanpa sadar, hati pun ikut berlomba, meski kaki sudah letih dan jiwa mulai kosong. Di titik inilah, manusia lupa bahwa ketenangan tidak lahir dari memiliki segalanya, tetapi dari merasa cukup atas apa yang Allah berikan.
Merasa cukup bukan berarti berhenti berusaha. Islam tidak pernah mengajarkan kemalasan. Namun, merasa cukup adalah kemampuan hati untuk menerima rezeki dan takdir Allah dengan lapang dada, sambil tetap melangkah sesuai kemampuan, bukan memaksakan kemauan. Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” (QS. Al-Baqarah: 286). Ayat ini mengajarkan bahwa hidup bukan tentang memaksa diri melampaui batas, melainkan memahami ukuran diri di hadapan Allah.
Rasa cukup melahirkan kebahagiaan yang sederhana namun mendalam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (merasa cukup) terhadap apa yang diberikan kepadanya” (HR. Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa cukup adalah karunia, bukan kekurangan. Banyak orang kaya harta, tetapi miskin rasa cukup. Sebaliknya, tidak sedikit yang sederhana hidupnya, namun kaya ketenangan.
Dalam sejarah Islam, kita mengenal sosok Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, sahabat Nabi yang sangat kaya. Namun kekayaannya tidak menjadikannya lalai. Ia tetap hidup sederhana, gemar bersedekah, dan takut jika hartanya melalaikan akhirat. Dalam satu riwayat disebutkan, ia menangis saat makan hidangan mewah, karena teringat Rasulullah ﷺ yang wafat dalam keadaan sederhana. Inilah contoh bahwa merasa cukup bukan menolak rezeki, tetapi tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama.
Sikap qana’ah juga tampak pada kehidupan Nabi Muhammad ﷺ. Rumah beliau sederhana, sering kali dapurnya tidak mengepul selama berhari-hari. Namun lisan beliau tak pernah berhenti memuji Allah. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ berdoa, “Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad sekadar cukup” (HR. Bukhari dan Muslim). Doa ini bukan doa kekurangan, melainkan doa keselamatan hati agar tidak terikat pada dunia.
Merasa cukup juga menjaga seseorang dari sifat israf dan boros. Allah memperingatkan, “Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan” (QS. Al-Isra: 27). Rezeki yang Allah titipkan bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan. Ketika hati merasa cukup, tangan akan lebih ringan bersedekah dan hidup menjadi lebih terarah.
Namun Islam juga realistis. Rasulullah ﷺ mengingatkan fitrah manusia, “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia menginginkan lembah yang ketiga. Dan tidak akan memenuhi mulut anak Adam kecuali tanah” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini bukan untuk membuat kita pesimis, tetapi agar sadar bahwa keinginan dunia tidak akan pernah selesai sampai ajal menjemput. Karena itu, rasa cukup harus dilatih, bukan ditunggu.
Prasangka baik kepada Allah menjadi kunci. Setiap hari, seorang mukmin diajak untuk yakin bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik. Rasulullah ﷺ bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku” (HR. Bukhari dan Muslim). Ketika kita merasa cukup, prasangka baik tumbuh, dan syukur pun mengalir. Syukur itulah yang Allah janjikan akan menambah nikmat, bukan hanya secara materi, tetapi juga ketenangan jiwa (QS. Ibrahim: 7).
Hati-hati pula dalam mencari harta dunia. Jangan sampai kesibukan mengejar rezeki membuat shalat tertunda, zikir dilupakan, dan ibadah menjadi beban. Sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengingatkan, “Janganlah kalian sibuk mencari dunia hingga melupakan akhirat, karena dunia akan datang kepada orang yang tidak mengejarnya, sementara akhirat tidak akan datang kepada orang yang melupakannya.”
Hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita kumpulkan, tetapi seberapa ringan hati kita saat menjalaninya. Merasa cukup adalah seni menerima takdir tanpa menyerah, bersyukur tanpa menunggu sempurna, dan berusaha tanpa melupakan Allah. Sebab kebahagiaan sejati bukan saat semua keinginan terpenuhi, melainkan ketika hati bersandar penuh kepada-Nya.
