
Banda Aceh – TIM Rukyatul Hilal LDII Aceh melakukan pengamatan hilal Syakban di Balai Observatorium Tgk Chik Kuta Karang, Lhoknga, Aceh Besar, Senin (19/1). Kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar umat Islam dalam menentukan awal bulan Hijriah secara ilmiah dan syar’i.
“Rukyatul hilal ini menjadi agenda rutin LDII Aceh sebagai bentuk kontribusi dalam penentuan awal bulan kamariah,” ujar Ketua DPW LDII Provinsi Aceh, Marzuki Ali.
Pengamatan hilal tersebut dilaksanakan oleh TIM LDII yang terdiri dari empat personel, yakni Rafael Nur Aziz, Panji Rofiq Samudra, Jaya, dan Agam Safriadi, dengan menggunakan peralatan optik yang tersedia di observatorium.
“Seluruh personel telah dibekali pemahaman teknis dan dasar ilmu falak agar proses pengamatan berjalan sesuai prosedur,” kata Marzuki Ali.
Berdasarkan perhitungan astronomi, hilal 1 Syakban diperkirakan berada pada ketinggian sekitar 4 hingga 6 derajat di atas ufuk saat matahari terbenam di langit Aceh. Waktu terbenam matahari tercatat pada pukul 18.45 WIB.
“Secara hisab, posisi hilal sebenarnya sudah memungkinkan untuk diamati,” jelas Marzuki Ali.
Namun, kondisi cuaca menjadi kendala utama dalam proses rukyatul hilal tersebut. Langit terpantau lembab dan tertutup awan tebal sehingga menyulitkan pengamatan secara visual.
“Kami tidak berhasil melihat hilal karena awan cukup tebal menutupi ufuk barat,” ungkapnya.
Meski demikian, kegiatan rukyatul hilal tetap dilaksanakan dengan penuh kehati-hatian dan mengikuti kaidah ilmiah serta ketentuan syariat Islam. Menurut Marzuki Ali, kondisi ini merupakan bagian dari dinamika dalam proses pemantauan hilal.
“Tidak terlihatnya hilal bukan berarti kegiatan ini sia-sia, karena rukyat juga merupakan bagian dari pembelajaran dan penguatan keilmuan,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, kegiatan rukyatul hilal juga dihadiri oleh sejumlah perukyat dari berbagai unsur, termasuk Tim Rukyatul Hilal Kementerian Agama Provinsi Aceh serta komunitas astronomi dan ilmu falakiyah Kota Banda Aceh.
“Kehadiran berbagai pihak menunjukkan semangat kolaborasi dalam pengembangan ilmu falak di Aceh,” kata Marzuki Ali.
Ia menambahkan, sinergi antara ormas Islam, pemerintah, dan komunitas astronomi sangat penting untuk meningkatkan akurasi serta pemahaman masyarakat terkait penentuan awal bulan Hijriah.
“Dengan kerja sama yang baik, hasil rukyat dapat menjadi rujukan yang lebih kuat dan dapat dipertanggungjawabkan,” tuturnya.
LDII Aceh, lanjut Marzuki Ali, terus berpartisipasi aktif dalam kegiatan rukyatul hilal sebagai bagian dari dakwah dan pembinaan umat.
“Kami ingin warga LDII dan masyarakat luas memahami bahwa penentuan awal bulan dilakukan dengan dasar ilmu dan keimanan,” katanya.
Selain sebagai kewajiban keagamaan, kegiatan rukyatul hilal juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar mengenal astronomi Islam dan ilmu falak sejak dini.
“Ini adalah bagian dari upaya mencetak generasi yang berilmu dan berakhlak,” ujar Marzuki Ali.
Dengan dilaksanakannya pengamatan hilal ini, LDII Aceh berharap masyarakat dapat semakin memahami pentingnya rukyat dalam kalender Islam serta tetap menjaga ukhuwah meski hasil pengamatan terkadang berbeda karena faktor alam.
“Yang terpenting adalah semangat kebersamaan dan niat ibadah dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan,” pungkas Marzuki Ali.
