
Banda Aceh, LDII Aceh – Kementerian Kesehatan memastikan bahwa varian influenza yang tengah ramai diperbincangkan, yakni Influenza A subclade H3N2 atau yang populer disebut “super flu”, bukanlah jenis virus yang mendominasi kasus flu di Indonesia saat ini. Meski demikian, kemunculan kasus ini tetap memicu kewaspadaan masyarakat.
Belakangan, dua orang dilaporkan positif terinfeksi super flu H3N2. Virus ini sebelumnya berstatus wabah di India dan sempat memicu kekhawatiran global. Namun pemerintah menegaskan situasi di Indonesia masih terkendali.
Perwakilan Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa dalam sepekan terakhir, varian yang paling banyak ditemukan justru subtipe H1, bukan H3N2.
“Dalam satu minggu terakhir, yang terdeteksi itu subtipe H1. Jadi bukan H3,” ujarnya di Gedung DPR/MPR, Jakarta Pusat, Senin (19/1).
Apa Itu Super Flu H3N2?
Super flu H3N2 pada dasarnya masih termasuk dalam kategori influenza musiman. Namun, para ahli menyebutkan bahwa mutasi virus membuat gejalanya bisa lebih berat dibandingkan flu biasa.
Menurut dokter spesialis paru Agus Dwi Susanto, H3N2 memang bukan virus baru, tetapi karakteristiknya bisa lebih agresif pada sebagian pasien.
Ia menjelaskan bahwa perbedaan utama antara super flu dan influenza biasa terletak pada tingkat keparahan gejalanya.
“Gejalanya bisa berupa demam tinggi hingga 39–41 derajat Celcius, nyeri otot hebat, sakit kepala berat, kelelahan ekstrem, dan batuk kering,” jelas Agus.
Selain itu, durasi sakit juga menjadi pembeda. Jika flu biasa umumnya membaik dalam 3–5 hari, super flu bisa berlangsung lebih lama dengan kondisi tubuh terasa lebih lemah.
Risiko Komplikasi Super Flu
Tak hanya soal gejala yang lebih berat, super flu juga memiliki potensi komplikasi yang perlu diwaspadai, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Agus menuturkan bahwa virus influenza H3N2 dapat menyebar hingga ke paru-paru dan menyebabkan peradangan serius.
“Virus bisa turun ke paru dan menimbulkan pneumonia virus. Bahkan bisa terjadi superinfeksi bakteri,” terangnya.
Komplikasi inilah yang membuat sebagian kasus super flu memerlukan penanganan medis lebih intensif dibanding flu musiman biasa.
Perbedaan Super Flu, Influenza, dan Covid-19
Secara umum, super flu, influenza, dan Covid-19 memang menunjukkan gejala yang hampir serupa. Ketiganya menyerang saluran pernapasan dengan keluhan seperti demam, batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan rasa lelah.
Namun perbedaan mendasar terletak pada jenis virus penyebabnya.
Super flu dan influenza disebabkan oleh virus influenza tipe A atau B, sementara Covid-19 disebabkan oleh infeksi virus dari kelompok coronavirus, yakni SARS-CoV-2.
Virus tersebut pertama kali teridentifikasi pada akhir 2019 dan kemudian memicu pandemi global. Covid-19 dapat menimbulkan gejala ringan seperti flu, tetapi pada sebagian orang bisa berkembang menjadi kondisi berat.
Gejala Covid-19 yang lebih serius biasanya meliputi batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, hingga gangguan pernapasan berat yang memerlukan perawatan rumah sakit.
Berbeda dengan flu biasa yang cenderung pulih dalam beberapa hari, Covid-19 dapat berkembang secara bertahap dan menimbulkan komplikasi sistemik, terutama pada pasien dengan penyakit penyerta.
Kapan Harus Waspada?
Masyarakat diimbau untuk tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kewaspadaan. Jika mengalami demam tinggi lebih dari tiga hari, nyeri otot hebat, atau sesak napas, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Langkah pencegahan seperti menjaga kebersihan tangan, menggunakan masker saat sakit, serta mendapatkan vaksinasi influenza tetap menjadi cara efektif untuk mengurangi risiko infeksi.
Meski super flu H3N2 tengah menjadi perhatian, pemerintah menegaskan bahwa situasi di Indonesia masih terkendali dan belum menunjukkan lonjakan signifikan akibat varian tersebut.
Dengan memahami perbedaan super flu, influenza, dan Covid-19, masyarakat diharapkan dapat mengenali gejala lebih dini dan mengambil langkah penanganan yang tepat.
