DPW LDII Provinsi Aceh
Nasional

Pacaran Bukan Solusi, Nikah Lebih Menjaga

ilustrasi menikah.

“Eh, kok kamu belum nikah juga sih?”
Pertanyaan klasik yang kadang datang tanpa undangan, tapi efeknya bisa bikin overthinking semalaman. Padahal, belum dapat jodoh itu bukan dosa, bukan pula aib. Kalau sudah lama sendiri, ya sudah—cuek saja. Hidup ini bukan lomba siapa paling cepat ke pelaminan, tapi siapa yang paling siap saat waktunya datang.

Di era media sosial, tekanan itu makin terasa. Timeline isinya lamaran, akad, baby shower, lalu ulang lagi. Sementara kita? Masih setia dengan status “sendiri”. Tapi justru di situlah seninya. Diam-diam menyusun strategi, memperbaiki diri, sampai suatu hari… boom! Kabar itu datang tanpa banyak kode: “Eh, tau-tau sudah menikah.” Kejutan yang elegan, tanpa drama.

Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kita untuk malu karena belum menikah. Jodoh adalah urusan Allah, bukan hasil kejar-kejaran manusia. Allah berfirman:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri supaya kamu merasa tenteram kepadanya…”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menegaskan bahwa pernikahan adalah tempat ketenangan, bukan sekadar pelarian dari kesepian atau tekanan sosial. Maka wajar kalau Allah menyiapkan dengan waktu yang tepat, bukan cepat-cepat tapi berantakan.

Di tengah penantian itu, ada satu prinsip yang sering dilupakan: lebih baik menjomblo daripada berpacaran yang berpotensi mengarah ke pelanggaran. Pacaran yang katanya “biar saling kenal” sering kali justru membuka pintu yang seharusnya belum dibuka. Batasan jadi kabur, komitmen belum ada, tapi rasa sudah ke mana-mana.

Allah dengan tegas mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)

Perhatikan, bukan cuma “jangan berzina”, tapi jangan mendekati. Artinya, segala jalan yang mengarah ke sana pun sebaiknya dihindari. Maka, ketika memilih untuk sendiri, menjaga jarak, dan fokus memperbaiki diri, itu bukan ketinggalan zaman—itu justru bentuk kehormatan.

Menikah dalam Islam memang sunnah, bahkan dalam kondisi tertentu bisa menjadi keharusan. Rasulullah SAW bersabda:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian yang telah mampu, maka menikahlah…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa menikah itu bukan sekadar romantis-romantisan, tapi tanggung jawab. Mampu secara mental, spiritual, dan moral. Jadi, kalau hari ini masih sendiri karena merasa belum siap, itu bukan penolakan terhadap sunnah, tapi justru bentuk kehati-hatian agar sunnah itu dijalani dengan benar.

Dalam proses mencari pasangan, Islam juga tidak ribet tapi tegas: akhlak adalah prioritas utama. Rasulullah SAW bersabda:

“Jika datang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.”
(HR. Tirmidzi)

Bukan soal gaji dulu, bukan soal visual dulu, tapi akhlak dan agama. Karena wajah bisa menua, harta bisa habis, tapi akhlak baik insyaallah akan tetap menemani, bahkan saat kondisi sedang sulit.

Makanya, selama belum bertemu yang tepat, nikmati saja masa sendiri ini. Bangun versi terbaik dari diri sendiri. Perbaiki ibadah, karier, cara berpikir, dan cara mencintai dengan benar. Tidak perlu sibuk klarifikasi ke siapa pun. Tidak perlu juga membandingkan diri dengan hidup orang lain di media sosial—karena yang terlihat belum tentu yang sebenarnya.

Dan siapa tahu, di saat yang tidak disangka-sangka, Allah memberi kejutan manis. Bukan lewat status pacaran panjang, tapi langsung ke tahap serius. Tanpa banyak cerita, tanpa ribut sana-sini. Tahu-tahu undangan nikah beredar, orang-orang kaget, dan kamu cuma senyum sambil bilang, “Doain ya.”

Karena pada akhirnya, jodoh bukan soal siapa paling cepat, tapi siapa paling siap. Jadi kalau hari ini masih sendiri, santai saja. Bisa jadi Allah lagi menyusun cerita yang paling indah—tanpa perlu kamu kejar-kejar dengan cara yang salah.

Related posts

Leave a Comment