
Berbakti kepada orang tua bukan hanya tuntutan moral, melainkan perintah langsung dari Allah SWT dalam banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad ﷺ. Akhlak ini menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk generasi yang bermartabat dan mendapat keberkahan hidup.
Dalam kehidupan nyata, kita bisa melihat betapa indahnya kisah anak-anak saleh yang menjadikan baktinya sebagai bentuk ibadah. Salah satu contoh adalah kisah Uwais Al-Qarni, seorang tabi’in yang dikenal seluruh langit karena baktinya kepada ibunya yang lumpuh.
Uwais tidak pernah dikenal di bumi, namun Nabi Muhammad ﷺ menyebut namanya kepada para sahabat karena kemuliaan akhlaknya. Ia tak ikut berperang bersama pasukan Islam karena harus merawat ibunya. Tapi justru karena itu, namanya harum hingga akhir zaman.
Di sisi lain, kita menyaksikan fenomena anak-anak masa kini yang mulai kehilangan arah. Banyak anak yang lebih patuh pada gawai dibanding orang tua. Suara ibu dipotong, perintah ayah diabaikan. Mereka merasa tahu segalanya dan tidak lagi melihat orang tua sebagai sosok yang patut dihormati.
Kondisi ini tak terjadi begitu saja. Banyak faktor yang mempengaruhi pola asuh permisif, media sosial, kurangnya pendidikan akhlak di rumah, dan lemahnya ikatan spiritual antara anak dan ajaran Islam.
Nabi Muhammad ﷺ telah memberikan banyak petunjuk dalam membentuk karakter anak yang patuh dan berakhlak. Sejak dini, beliau mengajarkan bahwa anak harus menghormati orang tuanya, memperlakukan mereka dengan kasih sayang, dan tidak boleh berkata “ah” sekalipun kepada mereka.
Dalam hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda: “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” Ini adalah pengingat tegas bahwa hubungan anak dengan orang tua menentukan nasibnya di dunia dan akhirat.
Pendidikan akhlak harus dimulai dari rumah. Islam sangat menekankan peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai kebaikan sejak dini. Tidak cukup hanya mengandalkan sekolah, apalagi gadget. Rumah adalah madrasah pertama, dan orang tua adalah gurunya.
Orang tua perlu membiasakan anak untuk mendengar, bersabar, dan menghargai. Bukan dengan kekerasan, tapi dengan teladan. Seorang anak yang melihat ayahnya menghormati kakek-neneknya, akan cenderung meniru sikap tersebut.
Salah satu solusi Islami dalam menumbuhkan karakter anak yang berbakti adalah memperkuat hubungan anak dengan Al-Qur’an dan kisah-kisah teladan. Kisah Nabi Ismail yang taat pada ayahnya Nabi Ibrahim menjadi contoh nyata bagaimana akhlak dibentuk dengan iman.
Kita juga bisa mengajarkan anak untuk senang bersedekah, membantu orang tua di rumah, mencium tangan setelah salat, dan mendoakan orang tua setiap selesai salat. Hal-hal kecil seperti ini bisa tumbuh menjadi karakter kuat ketika dibiasakan terus-menerus.
Selain itu, penting juga mengajarkan makna kesabaran dan tanggung jawab. Ketika anak paham bahwa orang tua dulu sabar mengurusnya, maka saat orang tua sakit, pikun, atau lemah, ia akan menghadapinya dengan lapang dada.
Tantangan di era sekarang memang besar. Teknologi dan budaya barat yang individualistik sering menanamkan nilai bahwa “kebebasan” lebih penting daripada adab. Maka tugas kita adalah menyeimbangkan antara pemahaman modern dan nilai-nilai Islam.
Membangun komunikasi yang hangat dan terbuka juga sangat penting. Jangan biarkan anak merasa jauh dari orang tua. Tanyakan perasaannya, dengarkan keluhannya, dan libatkan ia dalam kegiatan keagamaan bersama keluarga.
Orang tua juga perlu memperbanyak doa. Doa seorang ayah dan ibu adalah senjata terkuat dalam mendidik anak. Doakan agar anak tumbuh menjadi pribadi yang lembut hatinya, mudah menerima kebenaran, dan cinta pada agamanya.
Ketika anak telah memiliki hati yang terhubung dengan Allah, maka berbakti kepada orang tua bukan lagi beban, tetapi kebutuhan jiwa. Ia akan merasa bahwa melayani orang tuanya adalah bagian dari keimanannya.
Jika hari ini ada di antara kita yang merasa belum cukup berbakti, belum terlambat. Selama orang tua masih ada, gunakan waktu yang ada untuk memuliakan mereka. Peluk, ucapkan terima kasih, dan lakukan sesuatu yang membuat mereka tersenyum.
Dan jika orang tua telah tiada, maka cara kita berbakti adalah dengan mendoakan mereka, menjaga nama baik mereka, menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabatnya, dan bersedekah atas nama mereka.
Berbakti tidak mengenal usia. Entah anak itu masih kecil, remaja, atau telah dewasa bahkan berkeluarga — kewajiban itu tidak gugur. Justru di masa tua orang tua, kebutuhan mereka terhadap cinta dan perhatian makin besar.
Generasi yang kuat adalah generasi yang menjaga akhlaknya, bukan sekadar cerdas dan sukses. Maka mari kita mulai dari hal terkecil, menjadi anak yang tahu diri, tahu terima kasih, dan tahu batas.
Ingat, kunci surga ada di bawah telapak kaki ibu. Jika kita lalai, maka bisa jadi surga itu perlahan menjauh. Tapi jika kita jaga dengan sepenuh cinta, maka kita tengah menyiapkan tempat terbaik di akhirat.
Jadilah anak yang berbakti. Karena itulah jalan para nabi, orang-orang saleh, dan siapa pun yang ingin hidup penuh berkah, ridha, dan keberuntungan di dunia dan akhirat.
