
LDII Aceh – Tidak ada yang benar-benar siap ketika musibah datang. Ia hadir tanpa permisi, merobohkan rencana, menguji keyakinan, dan mengetuk nurani setiap manusia. Di balik kabar duka, banjir yang meluap, tanah yang longsor, rumah yang runtuh, atau air mata yang tak tertahan, selalu ada satu pertanyaan besar: sejauh mana iman dan kepedulian kita diuji?
Musibah sejatinya bukan sekadar peristiwa alam atau kejadian yang menyakitkan. Dalam pandangan iman, ia adalah bagian dari qodar atau ketetapan Allah untuk menguji hamba-Nya. Allah berfirman, “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah: 155). Ayat ini mengingatkan bahwa cobaan adalah keniscayaan, bukan tanda kebencian Allah, melainkan jalan untuk meninggikan derajat hamba-Nya.
Setiap manusia akan diuji, namun bentuk dan ukurannya berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kehilangan, ada yang diuji dengan sakit, ada pula yang diuji dengan kelapangan. Besar atau kecilnya cobaan bukan ukuran kasih sayang Allah, melainkan cara-Nya melihat seberapa sabar dan tabah hamba-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda, “Besarnya pahala tergantung besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka” (HR. Tirmidzi).
Musibah yang menimpa beberapa wilayah di Aceh hari-hari ini bukan hanya ujian bagi mereka yang terdampak langsung. Lebih dari itu, ia adalah ujian solidaritas bagi saudara-saudara yang lain. Apakah kita akan berpaling dan merasa aman di tempat sendiri, atau justru tergerak untuk hadir, membantu, dan meringankan beban sesama?
Islam tidak mengajarkan sikap acuh. Rasulullah ﷺ menegaskan, “Barang siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang mukmin di dunia, maka Allah akan menghilangkan satu kesusahannya pada hari kiamat” (HR. Muslim). Dalil ini menjadi penegasan bahwa setiap uluran tangan, sekecil apa pun, bernilai besar di sisi Allah. Membantu bukan hanya soal materi, tetapi juga doa, perhatian, dan empati.
Dalam hadits lain, Rasulullah ﷺ mengumpamakan orang-orang beriman seperti satu tubuh, “Perumpamaan kaum mukminin dalam cinta dan kasih sayang mereka seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur” (HR. Bukhari dan Muslim). Ibarat tubuh, mustahil mata membiarkan tangan terluka tanpa rasa peduli. Begitulah seharusnya iman bekerja dalam kehidupan sosial.
Sejarah Islam pun penuh dengan kisah kepedulian di tengah ujian. Saat kaum Muhajirin hijrah ke Madinah tanpa harta, kaum Anshar menyambut mereka dengan luar biasa. Mereka berbagi rumah, makanan, bahkan harta, tanpa diminta. Allah mengabadikan sikap mulia ini dalam Al-Qur’an, “Dan mereka mengutamakan orang-orang yang berhijrah atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan” (QS. Al-Hasyr: 9). Solidaritas ini lahir dari iman yang hidup, bukan sekadar simpati sesaat.
Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan kesabaran dalam menghadapi musibah. Saat beliau kehilangan putra tercinta, Ibrahim, air mata beliau mengalir. Namun beliau bersabda, “Sesungguhnya mata menangis dan hati bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Allah” (HR. Bukhari). Kesedihan tidak dilarang, namun iman menuntun agar tetap teguh dan berserah diri.
Di balik setiap musibah, ada panggilan untuk mawas diri. Allah mengingatkan, “Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (kesalahanmu)” (QS. Asy-Syura: 30). Ayat ini bukan untuk menyalahkan, melainkan mengajak manusia untuk introspeksi, memperbaiki diri, dan kembali kepada jalan yang lebih baik.
Musibah adalah guru yang diam, namun pelajarannya dalam. Ia mengajarkan empati, kesabaran, dan ketergantungan total kepada Allah. Bagi yang tertimpa, ia menjadi ladang pahala jika dihadapi dengan sabar dan tetap menegakkan ibadah. Bagi yang menyaksikan, ia menjadi ladang amal jika direspons dengan kepedulian dan tindakan nyata.
Musibah akan berlalu, sebagaimana malam yang digantikan pagi. Namun yang tertinggal adalah catatan: apakah kita memilih menjadi bagian dari solusi, atau sekadar penonton? Di sanalah iman diuji, dan di sanalah nilai kemanusiaan menemukan maknanya. Semoga Allah menjadikan kita hamba yang sabar saat diuji, dan hamba yang ringan tangan saat diminta untuk menolong.
