DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Mengejar Dunia Tanpa Batas, Kehilangan Ketenangan Iman

Dunia.

Tidak ada yang keliru dengan keinginan hidup nyaman dan berkecukupan di dunia. Islam tidak pernah mengharamkan kekayaan, usaha, atau kenikmatan duniawi. Namun, persoalan muncul ketika dunia menjadi tujuan utama, sementara iman perlahan tersisih dari hati seorang Muslim.

Dalam realitas kehidupan modern, ambisi terhadap harta, jabatan, dan popularitas sering kali dipuja sebagai ukuran kesuksesan. Tanpa disadari, orientasi hidup bergeser dari mencari ridha Allah menjadi sekadar mengejar pengakuan dan kemewahan dunia yang fana.

Padahal, sejak awal Islam telah mengingatkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara. Ia bukan tempat menetap, melainkan ladang ujian untuk menentukan arah kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Kisah yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan dan Zaid bin Tsabit menjadi cermin berharga bagi umat Islam. Ketika Utsman mendengar bahwa Zaid membawa sabda Rasulullah SAW, ia menyadari bahwa pesan tersebut bukan perkara ringan, melainkan peringatan besar tentang orientasi hidup manusia.

Rasulullah SAW dengan tegas menjelaskan bahwa siapa pun yang menjadikan dunia sebagai puncak ambisinya, maka dunia justru akan menjauh darinya. Kecemasan, rasa kurang, dan bayangan kefakiran akan terus menghantui, meskipun harta tampak berlimpah di hadapan mata.

Sebaliknya, siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuan utama, Allah sendiri yang akan mengatur urusan dunianya. Kebutuhan dicukupkan, hati dilapangkan, dan rezeki datang dari arah yang tak disangka-sangka, meskipun ia tidak terlalu mengejarnya.

Pesan ini menegaskan bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan rasa cukup yang Allah tanamkan di dalam hati. Inilah kekayaan yang tidak bisa dibeli dengan uang dan tidak akan habis oleh waktu.

Rasulullah SAW memberi teladan nyata dalam menyikapi dunia. Dalam sebuah hadis, beliau menggambarkan dirinya seperti seorang musafir yang berteduh sejenak di bawah pohon, lalu pergi meninggalkannya. Dunia bagi Nabi bukan rumah, melainkan tempat singgah sementara.

Padahal, jika Rasulullah SAW menghendaki, Allah mampu memberinya kekayaan berlimpah. Namun, beliau memilih hidup sederhana agar umatnya memahami bahwa kemuliaan tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari ketakwaan.

Para sahabat Nabi pun meneladani sikap ini. Utsman bin Affan dikenal sebagai sahabat yang sangat kaya, tetapi kekayaannya tidak menguasai hatinya. Ia menggunakan hartanya untuk kepentingan umat, bukan untuk memuaskan ambisi pribadi.

Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang kaya, tetapi melarang diperbudak oleh kekayaan. Harta boleh berada di tangan, tetapi tidak boleh mengikat hati.

Al-Qur’an secara jelas mengingatkan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Ayat ini bukan merendahkan dunia, melainkan meluruskan cara pandang manusia agar tidak terjebak dalam ilusi kenikmatan sesaat.

Ketika iman dan takwa menjadi fondasi hidup, dunia akan berada pada posisinya yang proporsional. Ia dimanfaatkan sebagai sarana beramal, bukan sebagai tujuan akhir yang menguras jiwa.

Ambisi duniawi yang berlebihan sering kali melahirkan kegelisahan. Semakin dikejar, semakin terasa kurang. Semakin dikumpulkan, semakin muncul rasa takut kehilangan.

Sebaliknya, orientasi akhirat justru melahirkan ketenangan batin. Seorang Mukmin tetap bekerja, berusaha, dan mencari nafkah, tetapi hatinya tidak terikat pada hasil semata, melainkan pada ridha Allah.

Hadis riwayat Ibnu Majah kembali menegaskan bahwa ambisi akhirat akan mencukupi dunia seseorang. Sedangkan ambisi dunia yang bercabang-cabang hanya akan menyeret manusia pada kehancuran batin dan spiritual.

Di tengah arus materialisme yang kian kuat, pesan Rasulullah SAW ini menjadi sangat relevan. Dunia modern menawarkan banyak kemudahan, tetapi juga menyimpan jebakan bagi iman yang rapuh.

Seorang Muslim dituntut untuk bijak dalam menata ambisi. Bekerja keras adalah ibadah, tetapi menjadikan dunia sebagai tujuan hidup adalah kesalahan besar.

Dunia akan ditinggalkan, tetapi amal akan dibawa. Harta akan habis, tetapi iman akan menemani hingga akhir perjalanan.

Pada akhirnya, dunia hanyalah alat, bukan tujuan. Ia hanya jalan, bukan tempat pulang. Dan sebaik-baik manusia adalah mereka yang mampu menjadikan dunia di tangan, sementara akhirat tetap di dalam hati.

Related posts

Leave a Comment