DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Mengapa Allah Tetap Memberi Rezeki kepada Pendosa?

Ilustrasi.

LDII Aceh – Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa seseorang yang terang-terangan bermaksiat justru tampak hidup berkecukupan, sehat, dan lapang rezekinya? Sementara di sisi lain, ada hamba yang tekun beribadah namun hidupnya terasa penuh ujian. Pertanyaan ini kerap berputar di benak manusia, terutama ketika keadilan dipahami hanya melalui ukuran duniawi. Namun, di sanalah letak rahasia besar tentang siapa Allah SWT sebenarnya.

Allah SWT memperkenalkan diri-Nya sejak awal Al-Qur’an sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kasih sayang ini bukan hanya milik orang-orang saleh, tetapi meliputi seluruh makhluk tanpa kecuali. Dalam Surah Al-A’raf ayat 156, Allah berfirman, “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” Ayat ini menjadi fondasi bahwa rahmat Allah tidak disaring berdasarkan tingkat ketaatan manusia.

Rezeki yang Allah limpahkan kepada manusia—baik berupa harta, kesehatan, kecerdasan, atau kesempatan hidup—bukanlah tanda mutlak kecintaan Allah, melainkan bukti kemurahan-Nya. Allah memberi makan orang yang beriman maupun yang kafir, orang yang taat maupun yang bergelimang dosa. Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Hud ayat 6, “Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.”

Mengapa demikian? Karena Allah bukanlah Tuhan yang pelit terhadap makhluk-Nya. Dunia ini adalah tempat ujian, bukan tempat pembalasan. Jika setiap dosa langsung diikuti dengan dicabutnya rezeki, niscaya tak ada satu pun manusia yang tersisa. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mengganti dengan kaum yang berbuat dosa lalu mereka memohon ampun kepada Allah, maka Allah mengampuni mereka.” (HR. Muslim). Hadits ini menegaskan bahwa dosa manusia justru menjadi pintu bagi hadirnya sifat Allah Yang Maha Pengampun.

Dalam perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW, terdapat banyak kisah yang menggambarkan luasnya kasih sayang Allah. Salah satunya ketika Rasulullah dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga tubuh beliau berdarah. Malaikat Jibril datang menawarkan untuk membinasakan penduduk Thaif dengan menimpakan dua gunung kepada mereka. Namun Rasulullah SAW menolak. Beliau berkata, “Aku berharap semoga Allah mengeluarkan dari tulang sulbi mereka orang-orang yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sikap Rasulullah ini bukan sekadar akhlak pribadi, melainkan cerminan pemahaman mendalam tentang rahmat Allah. Penduduk Thaif yang menyakiti Nabi tetap diberi kesempatan hidup, diberi rezeki, dan diberi waktu untuk berubah. Dan sejarah membuktikan, dari keturunan mereka lahir orang-orang yang kelak beriman.

Allah memberi rezeki kepada pendosa bukan karena Allah meridai dosanya, tetapi karena Allah memberi ruang taubat. Dalam Surah Az-Zumar ayat 53, Allah berfirman, “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” Ayat ini turun bukan untuk orang-orang suci, melainkan untuk mereka yang tenggelam dalam dosa.

Namun, perlu dipahami bahwa kelapangan rezeki juga bisa menjadi ujian yang lebih berat. Dalam Surah Al-An’am ayat 44, Allah mengingatkan, “Ketika mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan, Kami siksa mereka secara tiba-tiba.” Inilah yang disebut istidraj, kenikmatan yang meninabobokan sebelum perhitungan.

Rasulullah SAW pun mengingatkan, “Apabila kamu melihat Allah memberi seorang hamba dari dunia apa yang ia sukai, padahal ia terus bermaksiat, maka itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad). Maka, rezeki yang mengalir deras bukan selalu pertanda keselamatan, melainkan bisa menjadi peringatan yang tertunda.

Bagi orang beriman, pemahaman ini seharusnya melahirkan dua sikap: tidak iri terhadap kenikmatan orang lain dan tidak putus asa atas ujian diri sendiri. Rezeki bukan ukuran kemuliaan, dan kesempitan bukan tanda kebencian Allah. Semua berjalan sesuai hikmah-Nya yang sering kali melampaui logika manusia.

Allah SWT memberi kepada semua hamba-Nya karena Dia Maha Pengasih, bukan karena manusia pantas menerimanya. Tugas manusia bukan menghitung rezeki orang lain, melainkan memastikan rezeki yang ia terima mengantarkannya semakin dekat kepada Allah. Sebab, ketika dunia berakhir, yang tersisa bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa besar rahmat Allah yang berhasil kita jemput dengan iman dan taubat.

Related posts

Leave a Comment