DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Ketika Harta Tak Lagi Menenangkan

Ilustrasi harta yang melimpah.

LDII Aceh – Ada orang yang hidup dengan rumah megah dan kendaraan berderet di garasi, tetapi hatinya sempit dan tidurnya gelisah. Sebaliknya, ada pula yang hidup sederhana, namun wajahnya tenang, keluarganya rukun, dan doanya terasa ringan melangit. Dari sini kita belajar, bahwa ketenangan hidup tidak selalu sejalan dengan banyaknya harta. Sebab, yang membedakan bukan seberapa besar kekayaan yang dimiliki, melainkan bagaimana harta itu dikelola dan ke mana ia dialirkan.

Kehidupan manusia memang diciptakan berbeda-beda. Ada yang diuji dengan kelapangan rezeki, ada pula yang diuji dengan keterbatasan. Islam memandang perbedaan ini sebagai sunnatullah, bukan untuk dipertentangkan, apalagi dijadikan tolok ukur keimanan. Al-Qur’an menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah bukanlah karena kekayaan atau status sosial, melainkan ketakwaannya. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurat: 13).

Namun demikian, Islam tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mencintai kemiskinan. Rasulullah SAW bahkan berlindung dari kefakiran karena kemiskinan dapat menyeret seseorang pada kehinaan dan kelalaian. Islam mendorong umatnya untuk bekerja, berusaha, dan mencari harta dengan cara yang halal. Harta dibutuhkan agar manusia bisa hidup bermartabat, menafkahi keluarga, membantu sesama, dan memperluas kebaikan. Akan tetapi, Islam juga mengingatkan agar harta tidak menjelma menjadi sumber kesombongan dan penyakit hati.

Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam. Mencari harta dianjurkan, tetapi mengikat hati pada harta adalah larangan. Kekayaan seharusnya menjadi sarana untuk mendekat kepada Allah, bukan justru menjauhkan. Harta yang barokah adalah harta yang membuat pemiliknya semakin tenang, semakin ringan berbagi, dan semakin sadar bahwa semua yang dimiliki hanyalah titipan.

Sayangnya, realitas kehidupan modern sering kali memperlihatkan ironi. Untuk urusan gaya hidup, banyak orang sangat royal. Bagi sebagian pria, pakaian harus bermerek, handphone harus keluaran terbaru—kalau bisa iPhone. Bagi sebagian perempuan, skincare jangan sampai kehabisan, perawatan harus rutin, penampilan harus selalu prima. Anehnya, ketika datang ajakan infak dan sedekah, dompet mendadak “mengkerut”. Untuk urusan dunia, pengeluaran terasa cepat dan ringan. Namun untuk akhirat dan pahala, terasa begitu berat.

Padahal, tidak sedikit dari mereka yang memiliki rumah mewah, kendaraan mahal, dan tabungan berlimpah. Namun, infak dan sedekah seolah menjadi perkara yang selalu ditunda. Harta disimpan rapat-rapat, seakan akan habis jika dibagi. Padahal Allah justru menjanjikan sebaliknya. “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada tiap-tiap tangkai ada seratus biji” (QS. Al-Baqarah: 261).

Sejarah Islam memberikan teladan nyata tentang bagaimana harta yang dikelola dengan iman menghadirkan kebarokahan dan ketenangan. Lihatlah Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Ia adalah sahabat Nabi yang kaya, tetapi kekayaannya tidak pernah mengikat hatinya. Ketika Rasulullah SAW menyeru untuk bersedekah, Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Saat ditanya apa yang ia sisakan untuk keluarganya, ia menjawab dengan penuh keyakinan, “Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.” Ajaibnya, keluarga Abu Bakar tetap hidup dalam kecukupan dan ketenangan.

Umar bin Khattab RA pun dikenal sebagai sahabat yang dermawan. Ia pernah menyedekahkan setengah dari hartanya, berharap bisa melampaui Abu Bakar. Namun Umar justru belajar bahwa keikhlasan dan keyakinan kepada Allah jauh lebih utama daripada jumlah nominal. Begitu pula Utsman bin Affan RA, saudagar kaya yang hartanya mengalir deras untuk kepentingan umat. Ia membeli sumur Raumah untuk kepentingan kaum muslimin dan membiayai pasukan Tabuk dengan kekayaannya. Rasulullah SAW sampai bersabda, “Tidak ada yang membahayakan Utsman atas apa yang ia lakukan setelah hari ini.” (HR. Tirmidzi).

Rasulullah SAW sendiri adalah teladan utama dalam kedermawanan. Beliau tidak pernah menimbun harta. Apa yang ada di tangan beliau, segera dibagikan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah bersabda, “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” Sebuah janji yang menenangkan hati orang-orang beriman, bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan jalan menuju keberkahan.

Harta yang barokah bukanlah harta yang hanya dinikmati sendiri, tetapi harta yang mengalirkan manfaat. Ia menenangkan jiwa, membersihkan hati dari keserakahan, dan mendekatkan pemiliknya kepada Allah. Sedekah bukan soal besar atau kecil, melainkan soal keikhlasan dan konsistensi. Ketika harta digunakan untuk kebaikan, ia tidak hanya menyelamatkan orang lain, tetapi juga menyelamatkan pemiliknya dari kegelisahan hidup.

Kekayaan sejati bukanlah apa yang kita simpan, melainkan apa yang kita infakkan di jalan Allah. Sebab, harta yang kita makan akan habis, yang kita pakai akan usang, tetapi yang kita sedekahkan akan kekal sebagai pahala. Dari sanalah lahir ketenangan yang hakiki-ketenangan yang tidak bisa dibeli dengan rumah mewah, mobil mahal, atau gaya hidup prestisius, melainkan dengan iman, ketakwaan, dan hati yang ringan berbagi.

Related posts

Leave a Comment