
LDII Aceh – Berpacu dalam kebaikan bukanlah slogan kosong yang sekadar indah diucapkan. Ia adalah panggilan sunyi yang mengetuk hati manusia setiap hari, terutama ketika waktu terasa sempit, tenaga melemah, dan godaan menunda datang silih berganti. Di tengah dunia yang bergerak cepat, kebaikan sering kali kalah oleh kesibukan. Padahal, justru di sela-sela kesibukan itulah nilai kebaikan diuji: apakah ia tetap diperjuangkan, atau dibiarkan berlalu bersama detik yang tak akan kembali.
Allah SWT mengingatkan manusia agar tidak larut dalam penantian tanpa amal. “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133). Ayat ini bukan sekadar ajakan, melainkan dorongan untuk berlomba-lomba, bergerak cepat, dan tidak menunda kebaikan. Sebab, kebaikan yang ditunda sering kali berakhir tak pernah dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, berbuat baik tidak selalu tampil dalam rupa besar dan heroik. Ia hadir dalam senyum yang tulus, tangan yang terulur saat orang lain terjatuh, atau menahan lisan ketika mampu menyakiti. Namun, justru di titik itulah beratnya kebaikan terasa. Ketika ego ingin diutamakan, ketika lelah menguasai tubuh, dan ketika balasan manusia tak kunjung datang, kebaikan seakan menjadi beban. Tetapi bagi orang beriman, timbangan kebaikan bukanlah penilaian manusia semata, melainkan pandangan Allah SWT yang Maha Mengetahui.
Rasulullah SAW adalah teladan paling nyata tentang bagaimana kebaikan dijalani, bahkan ketika keadaan sangat berat. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah membalas keburukan dengan keburukan. Ketika beliau dilempari batu oleh penduduk Thaif hingga berdarah, malaikat penjaga gunung menawarkan untuk membinasakan mereka. Namun Rasulullah SAW justru berdoa, “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Ini adalah puncak kebaikan: memaafkan saat disakiti, mendoakan saat dizalimi.
Kisah ini mengajarkan bahwa kebaikan sejati tidak selalu mendapatkan tepuk tangan. Kadang, ia justru disertai luka dan air mata. Namun Rasulullah SAW menunjukkan bahwa ukuran kebaikan bukanlah rasa nyaman, melainkan keikhlasan dan ketaatan kepada Allah. Allah pun menegaskan, “Kebaikan apa pun yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 197).
Berbuat baik juga merupakan bahasa universal yang dipahami manusia lintas iman dan budaya. Kebaikan menumbuhkan kepercayaan, menguatkan persaudaraan, dan menjadi cahaya di tengah gelapnya kehidupan sosial. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Hadis ini menegaskan bahwa kebaikan tidak berhenti pada hubungan vertikal dengan Allah, tetapi juga tercermin dalam hubungan horizontal dengan sesama.
Namun, tidak semua kebaikan terasa manis di dunia. Ada kebaikan yang pahit, kelat, dan terasa berat dijalani. Menahan amarah, bersabar atas ketidakadilan, atau memberi di saat diri sendiri kekurangan adalah contoh kebaikan yang sering membuat hati bertanya: “Untuk apa semua ini?” Jawabannya ada pada janji Allah SWT. “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya)” (QS. Az-Zalzalah: 7). Janji ini memastikan bahwa tidak ada satu pun kebaikan yang sia-sia, sekecil apa pun ia tampak di mata manusia.
Rasulullah SAW juga mengingatkan agar manusia tidak meremehkan kebaikan. Dalam hadis riwayat Muslim, beliau bersabda, “Janganlah engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, meskipun hanya dengan wajah ceria saat bertemu saudaramu.” Kebaikan kecil yang konsisten bisa menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak, ketika manusia sangat membutuhkan satu kebaikan tambahan untuk keselamatan dirinya.
Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah tentang kesadaran waktu. Umur terus berkurang, kesempatan tak selalu datang dua kali. Kebaikan yang terasa berat hari ini, bisa menjadi penolong yang menyelamatkan di akhirat nanti. Dunia mungkin tidak selalu mencatat atau menghargainya, tetapi langit tak pernah lalai. Di sanalah kebaikan yang kelat akan berubah menjadi manis, menjadi pahala abadi yang dinikmati tanpa akhir.
Maka, ketika hati ragu dan langkah terasa berat, ingatlah bahwa setiap detik adalah ladang amal. Siapa yang bergegas menanam kebaikan, dialah yang kelak menuai keselamatan. Sebab, dalam perlombaan ini, garis finisnya bukan di dunia, melainkan di hadapan Allah SWT.
