DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Jalan Panjang Peringatan sebelum Azab Allah

Ilustrasi.

LDII Aceh – Tidak ada azab yang turun secara tiba-tiba. Tidak ada murka Allah yang datang tanpa peringatan. Sejarah umat manusia, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, adalah rangkaian panjang kasih sayang Allah yang mendahului kemurkaan-Nya. Namun ketika peringatan demi peringatan diabaikan, ketika kebenaran dipermainkan, dan para utusan dilecehkan, maka azab Allah datang sebagai penutup dari kesabaran yang telah dilanggar batasnya.

Allah Maha Pengasih, tetapi Dia juga Maha Adil.

Dalam sunnatullah-Nya, Allah tidak pernah membinasakan suatu kaum sebelum Dia mengutus seorang rasul kepada mereka. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya, “Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul” (QS. Al-Isra: 15). Ayat ini menjadi prinsip dasar bahwa azab bukanlah bentuk kezaliman, melainkan konsekuensi dari penolakan yang disengaja terhadap kebenaran.

Lihatlah kisah Nabi Nuh ‘alaihis salam. Selama hampir seribu tahun—950 tahun lamanya—beliau menyeru kaumnya untuk kembali kepada tauhid. Siang dan malam, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, seruannya terus menggema. Namun kaumnya tidak hanya menolak, mereka juga mengejek, mencemooh, bahkan menuduh Nabi Nuh sebagai orang gila. Allah mengabadikan keluh kesah Nabi Nuh dalam Al-Qur’an: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, tetapi seruanku itu tidak menambah mereka kecuali lari” (QS. Nuh: 5–6). Ketika kesombongan mencapai puncaknya, banjir besar pun diturunkan. Air menenggelamkan mereka yang mengingkari, sementara keselamatan hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman.

Kisah serupa terjadi pada kaum ‘Ad yang diutus kepada mereka Nabi Hud ‘alaihis salam. Mereka adalah kaum yang kuat, membangun bangunan tinggi, dan merasa tidak terkalahkan. Kekayaan dan kekuatan membuat mereka lupa diri. Ketika Nabi Hud memperingatkan agar mereka tidak menyekutukan Allah, mereka justru menantang. Maka Allah menurunkan angin yang sangat dingin dan kencang selama tujuh malam delapan hari berturut-turut. Al-Qur’an menggambarkan kehancuran itu dengan jelas: “Adapun kaum ‘Ad, maka mereka dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang” (QS. Al-Haqqah: 6).

Kaum Tsamud pun tak luput dari sunnatullah ini. Nabi Shalih ‘alaihis salam diutus membawa mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu, sebagai tanda kebesaran Allah. Namun alih-alih beriman, mereka justru menyembelih unta tersebut dan menantang azab. Allah berfirman, “Maka mereka menyembelih unta itu dan mendurhakai perintah Tuhan mereka” (QS. Al-A’raf: 77). Akhirnya, suara keras yang menggelegar menghancurkan mereka dalam sekejap.

Demikian pula kaum Nabi Luth ‘alaihis salam, yang tenggelam dalam penyimpangan moral dan menolak peringatan. Ketika kemaksiatan dianggap sebagai hal biasa dan kebenaran ditertawakan, Allah membalikkan negeri mereka dan menghujaninya dengan batu dari tanah yang terbakar. “Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar” (QS. Hud: 82).

Menariknya, sebelum azab turun, Allah selalu membuka pintu taubat. Bahkan dalam sebuah hadits qudsi, Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa Allah berfirman, “Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu” (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa murka Allah tidak mendahului kasih sayang-Nya.

Azab Allah bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peringatan sepanjang zaman. Ketika kezaliman merajalela, kebenaran dibungkam, kemaksiatan dinormalisasi, dan dakwah ditertawakan, maka manusia sejatinya sedang berdiri di tepi jurang yang sama. Bedanya, Allah masih memberi waktu—masih mengirim peringatan melalui ayat-ayat-Nya, musibah, dan para penyeru kebaikan.

Sejarah kaum-kaum terdahulu bukan untuk menakut-nakuti semata, tetapi untuk menyadarkan. Bahwa keselamatan bukan pada kekuatan, kekuasaan, atau teknologi, melainkan pada iman dan ketaatan. Selama pintu taubat masih terbuka, selama seruan kebenaran masih terdengar, maka azab belum menjadi akhir.

Namun ketika peringatan itu terus diabaikan, maka sunnatullah akan tetap berjalan. Sebab Allah tidak pernah mengingkari janji-Nya—baik janji rahmat maupun janji azab.

Related posts

Leave a Comment