
Di tengah arus media sosial yang kerap menampilkan standar kecantikan serba visual—wajah rupawan, tubuh ideal, gaya hidup glamor—sering kali kita lupa bahwa pernikahan bukanlah panggung kontes. Ia adalah perjalanan panjang, tempat dua jiwa saling menenangkan dan menumbuhkan iman. Dalam Islam, kecantikan memang diakui, tetapi ia bukan mahkota utama. Ada nilai yang jauh lebih berharga dan abadi: kesalihan. Lalu, seperti apa sebenarnya kriteria istri salihah menurut ajaran Islam?
Islam memandang pernikahan sebagai ibadah. Karena itu, memilih pasangan hidup bukan semata soal selera, melainkan tentang visi menuju ridha Allah. Rasulullah ﷺ telah memberi fondasi yang sangat jelas. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda, “Perempuan dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya engkau beruntung.” Pesan ini bukan menafikan kecantikan atau harta, tetapi menegaskan bahwa agama—iman dan akhlak—adalah pilar utama.
Iman yang Kokoh dan Takwa kepada Allah
Kriteria pertama istri salihah adalah iman yang kokoh. Ia menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bagi mereka surga Firdaus sebagai tempat tinggal” (QS. Al-Kahfi: 107). Istri salihah bukan hanya rajin beribadah secara personal, tetapi juga mampu menjaga dirinya saat suami tidak ada. Ia takut melanggar batas Allah, bukan karena pengawasan manusia, melainkan karena kesadaran iman.
Akhlak Mulia dalam Kehidupan Sehari-hari
Kecantikan akhlak adalah perhiasan yang tidak pudar. Istri salihah dikenal dengan kelembutan tutur kata, kesabaran, dan sikap menghormati. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik perempuan adalah yang apabila engkau memandangnya menyenangkanmu, apabila engkau memerintahkannya ia menaati, dan apabila engkau tidak ada, ia menjaga dirinya dan hartamu” (HR. Abu Dawud). Akhlak inilah yang menjadikan rumah tangga terasa teduh, bukan medan konflik.
Menjadi Penolong dalam Ketaatan
Salah satu peran agung istri salihah adalah menjadi penolong suami dalam ketaatan kepada Allah. Ia bukan sekadar pendamping dunia, tetapi juga sahabat menuju akhirat. Kisah Siti Khadijah r.a. adalah teladan paling indah. Saat Rasulullah ﷺ menerima wahyu pertama dan pulang dalam keadaan gemetar, Khadijah tidak meragukan atau mencela. Ia menenangkan dengan berkata, “Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu. Engkau menyambung silaturahmi, menolong orang lemah, memuliakan tamu, dan menolong orang yang tertimpa musibah.” Dukungan ini bukan hanya emosional, tetapi spiritual—meneguhkan langkah kenabian.
Cerdas dan Bijaksana
Islam tidak menutup mata terhadap kecerdasan perempuan. Istri salihah mampu berpikir jernih dan bijaksana dalam menyikapi persoalan. Aisyah r.a., istri Rasulullah ﷺ, dikenal sebagai perempuan yang cerdas dan berilmu. Banyak sahabat besar merujuk kepadanya untuk urusan hadis dan hukum Islam. Ini menunjukkan bahwa kesalihan bukan identik dengan pasif, melainkan aktif dalam kebaikan dan ilmu.
Menjaga Kehormatan dan Amanah
Dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan ciri perempuan salihah: “Maka perempuan-perempuan yang salihah ialah yang taat dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada karena Allah telah menjaganya” (QS. An-Nisa: 34). Menjaga kehormatan, lisan, dan amanah rumah tangga adalah wujud nyata kesalihan. Ia tahu bahwa pernikahan adalah amanah besar yang kelak dipertanggungjawabkan.
Bukan Sempurna, Tapi Selalu Bertumbuh
Penting dipahami, istri salihah bukanlah perempuan tanpa cela. Ia manusia biasa yang bisa lelah dan salah. Namun, ia selalu ingin bertumbuh—memperbaiki diri, meminta maaf, dan kembali kepada Allah. Kesalihan adalah proses, bukan status final.
Islam mengajarkan bahwa kecantikan sejati adalah yang memancar dari iman dan akhlak. Wajah bisa menua, harta bisa habis, tetapi kesalihan akan terus hidup, bahkan hingga ke akhirat. Maka, ketika Islam berbicara tentang istri salihah, ia sedang mengajak kita melihat lebih dalam: bukan cuma cantik di mata manusia, tetapi indah di sisi Allah.
