DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Ilmu yang Menyelamatkan dan Ilmu yang Membinasakan

Ilustrasi.

LDII Aceh – Ilmu adalah cahaya. Namun seperti cahaya, ia bisa menerangi jalan menuju keselamatan, atau justru membakar pemiliknya bila disalahgunakan. Tidak semua orang yang berilmu otomatis mulia di sisi Allah. Ada yang ilmunya mengangkat derajatnya, ada pula yang justru menyeretnya ke jurang penyesalan. Di sinilah letak kejujuran ilmu diuji—bukan pada banyaknya hafalan, tetapi pada keberanian untuk mengamalkan dan ketulusan untuk menyebarkan.

Rasulullah SAW sejak awal telah mengingatkan umatnya bahwa kedudukan orang berilmu di Hari Kiamat bukanlah perkara ringan. Ilmu bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Siapa yang memuliakan ilmu akan dimuliakan, dan siapa yang menghinakannya akan menuai kerugian yang pahit.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah SAW membagi kaum berilmu ke dalam dua golongan dengan nasib yang sangat kontras. Golongan pertama adalah ulama yang mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya kepada manusia. Mereka selamat, bahkan menjadi penolong bagi banyak jiwa. Golongan kedua adalah ulama yang menyembunyikan ilmunya, atau menukarnya demi kepentingan dunia—mereka inilah orang-orang yang merugi.

Golongan pertama adalah orang-orang yang memahami bahwa ilmu bukan milik pribadi. Mereka sadar, setiap ayat yang dipelajari, setiap hadis yang dihafal, bukan untuk dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Ilmu yang mereka miliki menjelma akhlak, tercermin dalam lisan yang menyejukkan, sikap yang adil, dan keberanian menyampaikan kebenaran meski pahit.

Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka itu sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 7).
Ayat ini menegaskan bahwa keutamaan tidak berhenti pada iman dan pengetahuan, tetapi berpuncak pada amal saleh. Ilmu tanpa amal hanyalah beban, sedangkan ilmu yang diamalkan menjadi jalan keselamatan.

Rasulullah SAW juga bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan ilmu terletak pada peredarannya—ketika ilmu hidup di tengah umat, bukan terkunci di kepala atau disimpan demi kepentingan pribadi.

Berbeda dengan golongan pertama, golongan kedua adalah mereka yang berilmu namun hatinya terikat pada dunia. Mereka tahu kebenaran, tetapi memilih diam. Mereka paham hukum Allah, namun menjual fatwa demi kedudukan, pujian, atau materi. Ilmu yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi bukti yang memberatkan di hadapan Allah.

Rasulullah SAW memberikan peringatan keras,
“Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu lalu ia menyembunyikannya, maka Allah akan mengikatnya dengan kekang dari api neraka pada Hari Kiamat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Hadis ini bukan sekadar ancaman, tetapi cermin betapa berbahayanya ilmu yang dikhianati.

Al-Qur’an pun mengecam keras sikap tersebut. Allah SWT berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan dan petunjuk setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itulah yang dilaknat Allah dan dilaknat pula oleh semua yang melaknat.” (QS. Al-Baqarah: 159).
Laknat ini menunjukkan bahwa menyembunyikan ilmu bukan dosa biasa, melainkan kejahatan terhadap umat.

Pada Hari Kiamat kelak, ulama akan berada di posisi yang sangat menentukan. Rasulullah SAW bersabda,
“Orang yang paling berat azabnya pada Hari Kiamat adalah orang alim yang tidak diberi manfaat oleh Allah dengan ilmunya.” (HR. Thabrani).
Ilmu yang tidak melahirkan manfaat bukan hanya sia-sia, tetapi menjadi sebab siksa yang pedih.

Kisah dua golongan berilmu ini sejatinya adalah cermin bagi siapa pun yang belajar, mengajar, dan berbicara atas nama agama. Ilmu tidak menuntut kesempurnaan, tetapi kejujuran. Tidak semua orang mampu menguasai banyak ilmu, namun setiap orang berilmu mampu memilih: menjadikan ilmunya jalan keselamatan, atau sebab kerugian.

Ilmu akan bersaksi. Ia akan berkata jujur tentang siapa yang memuliakannya dan siapa yang mengkhianatinya. Maka berbahagialah orang yang ilmunya menuntunnya untuk tunduk, merendah, dan berbagi. Dan celakalah orang yang ilmunya justru menjauhkannya dari Allah, meski lisannya penuh dalil dan hujah.

Related posts

Leave a Comment