DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Ketika Iman Menjadi Pondasi, Keluarga Menjadi Surga

Ilustrasi keluarga bahagia.

LDII Aceh – Banyak orang berangkat dari rumah setiap pagi dengan keyakinan yang sama yaitu bekerja lebih keras hari ini agar hidup lebih bahagia esok hari. Bahagia, dalam benak sebagian orang, identik dengan rumah besar, kendaraan mewah, tabungan berlimpah, dan gaya hidup serba cukup. Namun, tak sedikit pula yang pulang ke rumah megah itu dengan hati kosong, suara meninggi, pertengkaran tak berkesudahan, dan anak-anak yang kehilangan arah. Di titik inilah kita mulai bertanya, benarkah kebahagiaan lahir dari materi semata?

Keluarga sejatinya adalah sumber kebahagiaan paling awal dan paling hakiki bagi manusia. Dari keluarga, seseorang belajar mencintai, memahami, bersabar, dan memaknai hidup. Namun, ketika harta menjadi satu-satunya ukuran bahagia, sementara nilai-nilai agama diabaikan, keluarga justru berdiri di ambang bencana. Kekayaan tanpa iman ibarat bangunan megah tanpa pondasi-rapuh dan mudah runtuh.

Tak sedikit keluarga yang secara materi berkecukupan, tetapi miskin akhlak dan moral. Rumah tangga semacam ini sering kali diwarnai egoisme, saling menyalahkan, dan komunikasi yang kasar. Suami sibuk dengan dunianya, istri merasa terbebani tanpa dihargai, anak-anak tumbuh tanpa teladan. Kehilangan nilai agama dalam keluarga perlahan mengikis rasa hormat, kasih sayang, dan tanggung jawab. Padahal, kehancuran sebuah bangsa sering kali berawal dari runtuhnya keluarga-keluarga kecil di dalamnya.

Islam memandang keluarga sebagai amanah besar. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab yang jelas. Suami sebagai pemimpin rumah tangga berkewajiban menafkahi, membimbing, dan melindungi keluarganya dengan kasih sayang dan keteladanan. Istri berperan sebagai pendamping, penenang, dan pendidik pertama bagi anak-anak. Sementara anak-anak belajar taat, berakhlak, dan menghormati orang tua. Ketika masing-masing menjalankan perannya dengan kesadaran iman, keluarga akan berjalan dalam harmoni.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini menegaskan bahwa tanggung jawab keluarga bukan hanya soal kebutuhan dunia, tetapi juga keselamatan akhirat. Membahagiakan keluarga bukan sekadar menyediakan sandang, pangan, dan papan, melainkan menanamkan iman, adab, dan nilai kebaikan.

Teladan terbaik dalam membangun keluarga bahagia adalah Nabi Muhammad SAW. Beliau bukan hanya seorang rasul dan pemimpin umat, tetapi juga kepala keluarga yang penuh kasih. Dalam rumah tangganya, Rasulullah dikenal lembut, penuh perhatian, dan jauh dari sikap kasar. Aisyah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah membantu pekerjaan rumah tangga dan memperlakukan keluarganya dengan penuh cinta. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam keluarga bukan tentang kekuasaan, melainkan tanggung jawab dan keteladanan.

Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku” (HR. Tirmidzi). Hadis ini menegaskan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukan di luar rumah, melainkan bagaimana ia bersikap kepada keluarga terdekatnya. Akhlak yang baik dimulai dari rumah.

Dalam mendidik anak-anaknya, Rasulullah SAW juga menanamkan kasih sayang dan ketegasan yang seimbang. Beliau memeluk cucunya, Hasan dan Husain, mencium mereka, dan menasihati dengan kelembutan. Ini menjadi pelajaran penting bahwa membangun generasi yang kuat tidak lahir dari kekerasan, tetapi dari cinta yang dibingkai dengan iman.

Kebahagiaan keluarga juga tercipta dari tutur kata yang baik. Kata-kata lembut, doa, dan saling menguatkan menjadi energi positif dalam rumah tangga. Al-Qur’an mengingatkan, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik” (QS. Al-Isra: 53). Kalimat sederhana yang baik dapat menenangkan hati, sementara ucapan kasar mampu meruntuhkan ikatan cinta.

Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang paling kaya, tetapi yang paling bersyukur. Bukan yang bebas masalah, melainkan yang mampu menghadapi masalah dengan iman dan kebersamaan. Ketika rumah dipenuhi shalat, doa, adab, dan kasih sayang, maka kebahagiaan akan tumbuh dengan sendirinya.

Di sanalah keluarga menjadi tempat pulang paling aman. Tempat lelah berubah menjadi tenang, dan dunia terasa lebih ringan. Sebab kebahagiaan sejati tidak dibeli dengan harta, melainkan dibangun dengan iman, akhlak, dan cinta yang dirawat setiap hari.

Related posts

Leave a Comment