DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Mengapa Dosa Sesama Manusia Tidak Diampuni Allah?

Ilustrasi.

LDII Aceh – Pada suatu hari, Rasulullah ﷺ bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut?” Para sahabat menjawab, orang bangkrut adalah mereka yang tidak memiliki harta dan kekayaan. Namun Rasulullah ﷺ justru menjelaskan sesuatu yang jauh lebih menggetarkan: orang bangkrut sejati adalah mereka yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi pahala itu habis karena ia pernah menzalimi orang lain—mencaci, memfitnah, mengambil hak, dan tidak menunaikan kewajiban kepada sesama manusia.

Kisah ini bukan sekadar peringatan, tetapi tamparan bagi siapa pun yang merasa aman dengan ibadah ritual, namun abai terhadap hak-hak manusia. Inilah sebab mengapa dosa sesama manusia—yang dalam Islam dikenal sebagai ḥaqq al-‘ibād—tidak diampuni begitu saja oleh Allah, sebelum diselesaikan dengan orang yang dizalimi.

Dalam ajaran Islam, dosa terbagi ke dalam dua kategori besar: dosa kepada Allah (ḥaqq Allāh) dan dosa kepada sesama manusia (ḥaqq al-‘ibād). Dosa kepada Allah, seperti meninggalkan salat atau puasa, masih memiliki peluang besar untuk diampuni melalui taubat yang tulus. Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Namun berbeda dengan dosa yang melibatkan manusia lain. Allah menegaskan prinsip keadilan-Nya: hak manusia tidak akan dihapus kecuali manusia itu sendiri yang memaafkan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik terkait kehormatan maupun harta, maka hendaklah ia meminta kehalalan (maaf) hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada dinar dan dirham.”
(HR. Bukhari)

Hadis ini menegaskan bahwa penyelesaian dosa sesama manusia harus dilakukan di dunia, bukan ditunda hingga akhirat.

Salah satu bentuk dosa sesama manusia yang paling sering terjadi adalah hutang yang tidak dibayar. Hutang sejatinya bukan hanya urusan ekonomi, tetapi urusan moral dan spiritual. Ketika seseorang berhutang lalu menunda pembayaran padahal mampu, atau bahkan berniat tidak membayarnya, maka ia telah melakukan perbuatan zalim.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Penundaan pembayaran hutang oleh orang yang mampu adalah suatu kezaliman.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan, Rasulullah ﷺ pernah menolak menshalatkan jenazah seorang sahabat hingga hutangnya dilunasi. Ini menunjukkan betapa seriusnya perkara hutang dalam Islam. Dalam hadis lain disebutkan:

“Jiwa seorang mukmin tergantung oleh hutangnya sampai hutang itu dilunasi.”
(HR. Tirmidzi)

Maknanya, meskipun seseorang wafat dalam keadaan beriman, urusannya belum selesai selama ia masih meninggalkan hutang kepada manusia.

Allah ﷻ adalah Maha Adil. Di hari kiamat, keadilan itu ditegakkan secara sempurna. Tidak ada lagi transaksi uang, jabatan, atau kekuasaan. Yang ada hanyalah pahala dan dosa. Rasulullah ﷺ menggambarkan bahwa pahala orang yang menzalimi akan diberikan kepada orang yang dizalimi. Jika pahala habis, dosa orang yang dizalimi akan dipindahkan kepadanya (HR. Muslim).

Al-Qur’an juga mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mengira bahwa Allah lengah terhadap apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim.”
(QS. Ibrahim: 42)

Ayat ini menegaskan bahwa kezaliman, sekecil apa pun, tidak akan luput dari perhitungan Allah.

Pesan utama Islam dalam perkara dosa sesama manusia adalah penyelesaian. Jika pernah menyakiti, mintalah maaf. Jika pernah mengambil hak, kembalikan. Jika memiliki hutang, bayarlah atau setidaknya berusaha dengan sungguh-sungguh. Jangan menunda dengan alasan duniawi, karena akhirat jauh lebih berat hisabnya.

Taubat kepada Allah tidak akan sempurna tanpa menyelesaikan urusan dengan manusia. Inilah yang sering dilupakan: ibadah vertikal harus seimbang dengan tanggung jawab horizontal.

Kehidupan dunia adalah ladang ujian, dan hubungan antarmanusia adalah ujian yang paling nyata. Betapa banyak orang rajin beribadah, namun gagal menjaga amanah, menunaikan hutang, dan menghormati hak orang lain. Padahal, keselamatan di akhirat tidak hanya ditentukan oleh banyaknya ibadah, tetapi oleh bersihnya hati dan adilnya sikap kepada sesama.

Sebelum ajal menjemput, selesaikanlah semua urusan dunia. Jangan biarkan hutang, kezaliman, dan hak orang lain menjadi beban yang kita bawa menghadap Allah. Karena di akhirat kelak, tidak ada lagi kesempatan untuk membayar—selain dengan pahala yang mungkin kita harapkan menjadi penolong.

Related posts

1 comment

Syafruddin 6 Januari 2026 at 5:15 pm

Semoga Alloh paring barokah

Reply

Leave a Comment