
LDII Aceh – Tidak sedikit manusia yang terbangun setiap pagi dengan satu pertanyaan yang sama: “Hari ini, dari mana rezeki akan datang?” Ada yang bergegas ke kantor dengan wajah tegang, ada yang membuka lapak kecil di pinggir jalan dengan penuh harap, ada pula yang menengadahkan tangan dalam doa panjang setelah salat Subuh. Padahal, jauh sebelum manusia memikirkan rezekinya, Allah telah lebih dahulu menuliskannya. Bukan sekadar jumlahnya, tetapi juga jalannya, waktunya, dan keberkahannya.
Keyakinan tentang rezeki merupakan fondasi penting dalam keimanan seorang Muslim. Allah menegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak satu pun makhluk di muka bumi ini dibiarkan tanpa jaminan rezeki. “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam makhluk itu dan tempat penyimpanannya” (QS. Hud: 6). Ayat ini bukan sekadar penghibur, tetapi penguat hati bahwa rezeki bukan hasil semata dari kecerdikan manusia, melainkan ketetapan dari Sang Maha Pemberi.
Menariknya, rezeki setiap makhluk tidak disamakan. Ada yang diuji dengan kelapangan, ada pula yang ditempa dengan kesempitan. Namun semuanya berada dalam takaran yang presisi. Rasulullah SAW bersabda bahwa ruh manusia ditiupkan ke dalam janin bersamaan dengan dicatatnya empat perkara: rezeki, ajal, amal, dan nasibnya (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, rezeki bukan sesuatu yang liar dan tak tentu arah; ia tercatat rapi dalam ketentuan Allah sejak manusia belum menghirup udara dunia.
Meski demikian, Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Justru mencari rezeki adalah kewajiban. Rasulullah SAW menegaskan bahwa mencari rezeki yang halal adalah bagian dari ibadah. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Mencari yang halal adalah kewajiban setelah kewajiban (yang lain)” (HR. Thabrani). Usaha menjadi jalan, sedangkan hasil tetap dalam genggaman Allah. Inilah keseimbangan indah antara ikhtiar dan tawakal.
Kisah para nabi dan sahabat menjadi cermin nyata bagaimana rezeki dikejar dengan cara yang benar. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan utama. Sebelum diangkat menjadi rasul, beliau dikenal sebagai pedagang yang jujur dan amanah. Kejujuran itu bukan hanya membangun kepercayaan manusia, tetapi juga mengundang keberkahan dari Allah. Bahkan Khadijah radhiyallahu ‘anha melihat keuntungan dagang Rasulullah SAW bukan sekadar berlipat secara materi, melainkan juga membawa ketenteraman.
Sahabat Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu juga menyuguhkan kisah yang menggetarkan iman. Ketika hijrah ke Madinah, ia datang tanpa membawa harta. Namun ia menolak diberi bantuan berlebih dan hanya berkata, “Tunjukkan kepadaku di mana pasar.” Dengan kejujuran, kerja keras, dan niat yang lurus, Allah melapangkan rezekinya hingga ia menjadi salah satu sahabat terkaya. Hartanya melimpah, tetapi hatinya tetap bersandar kepada Allah, bukan pada angka-angka dunia.
Sebaliknya, Islam juga memberi peringatan keras tentang rezeki yang diperoleh dengan cara haram. Harta yang datang dari kecurangan, riba, penipuan, atau kezaliman mungkin tampak menguntungkan di mata manusia, tetapi sejatinya ia menggerogoti keberkahan hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik” (HR. Muslim). Bahkan dalam hadits lain disebutkan, doa seseorang yang makanannya haram, minumannya haram, dan pakaiannya haram, sangat jauh dari kata dikabulkan.
Rezeki halal, meski tampak sedikit, memiliki daya yang luar biasa. Ia menenangkan hati, menumbuhkan syukur, dan melahirkan ketentraman dalam keluarga. Rezeki halal tidak hanya menghidupi tubuh, tetapi juga menyuburkan jiwa. Sebaliknya, rezeki haram sering kali menghadirkan kegelisahan, konflik, dan kehampaan yang sulit dijelaskan. Inilah mengapa keberkahan menjadi ukuran yang lebih penting daripada sekadar nominal.
Rezeki bukan tentang siapa yang paling cepat, paling kuat, atau paling licik. Rezeki adalah tentang siapa yang paling percaya, paling jujur, dan paling taat dalam menempuh jalan-Nya. Ketika manusia memahami bahwa semua makhluk telah dijamin rezekinya, maka ia akan berhenti iri dan mulai bersyukur. Ketika manusia yakin bahwa halal mendatangkan berkah, maka ia akan lebih berhati-hati dalam setiap langkah.
Mencari rezeki adalah perjalanan iman. Ia bukan hanya soal bekerja, tetapi juga soal menjaga hati agar tetap bersih, tangan tetap lurus, dan doa tetap hidup. Sebab, rezeki yang paling indah bukanlah yang paling banyak, melainkan yang paling berkah dan mendekatkan pemiliknya kepada Allah.
