
LDII Aceh – Ada rasa haru yang sulit dijelaskan setiap kali Ramadhan datang mengetuk pintu waktu. Ia tidak pernah bersuara, tetapi kehadirannya terasa hingga ke relung jiwa. Tarawih pertama, lantunan ayat-ayat Alquran yang lebih sering terdengar, dan wajah-wajah yang tampak lebih teduh—semuanya seakan mengingatkan bahwa kita masih diberi kesempatan. Kesempatan yang tidak semua orang miliki: umur panjang untuk kembali berpuasa.
Betapa banyak orang yang tahun lalu masih bersama kita, tetapi kini telah tiada. Maka ketika Allah masih mempertemukan kita dengan Ramadhan, itu bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriyah. Ia adalah nikmat besar. Nikmat umur. Nikmat iman. Nikmat kesempatan memperbaiki diri.
Allah berfirman dalam Alquran:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini tegas: puasa Ramadhan adalah kewajiban. Bukan pilihan, bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perintah langsung dari Allah bagi setiap Muslim yang baligh, berakal, dan mampu. Kewajiban ini berlaku kecuali ada udzur syar’i, seperti sakit atau sedang dalam perjalanan jauh (musafir). Allah memberikan keringanan, sebagaimana lanjutan ayat-Nya:
“Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah: 184)
Islam tidak memaksa di luar kemampuan. Namun di balik keringanan itu, tersimpan pesan penting: jangan jadikan udzur sebagai alasan untuk meremehkan. Puasa bukan beban, tetapi sarana pendidikan jiwa.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan dahaga, puasa adalah latihan mengendalikan diri. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Puasa adalah perisai.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perisai dari apa? Dari hawa nafsu, dari amarah, dari kebiasaan buruk yang sering kali merusak amal kita. Maka orang yang berpuasa bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menjaga lisan, pandangan, dan hatinya.
Rasulullah ﷺ memberikan teladan bagaimana menjalani puasa dengan benar. Beliau menyegerakan berbuka ketika matahari terbenam dan mengakhirkan sahur menjelang fajar. Dalam sebuah hadist disebutkan:
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan tentang sahur, beliau bersabda:
“Bersahurlah kalian, karena dalam sahur terdapat keberkahan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cara Nabi berpuasa bukan hanya soal teknis waktu makan, tetapi juga akhlak selama berpuasa. Jika ada orang yang mencaci, beliau mengajarkan untuk mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi penuh makna: puasa adalah identitas kehormatan yang harus dijaga.
Ramadhan juga menghadirkan ancaman keras bagi mereka yang meremehkannya. Dalam sebuah hadist, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berbuka satu hari di bulan Ramadhan tanpa rukhsah (keringanan) dan tanpa sakit, maka tidak akan bisa menggantinya walaupun ia berpuasa sepanjang tahun.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadist ini menjadi peringatan yang menggugah. Sengaja membatalkan puasa tanpa alasan syar’i bukan perkara ringan. Bahkan jika seseorang menyesal dan berpuasa setahun penuh, ia tidak akan menyamai nilai satu hari Ramadhan yang sengaja ditinggalkannya. Betapa berharganya satu hari di bulan ini.
Di sinilah letak nikmat Ramadhan yang sesungguhnya. Ia adalah ladang pahala yang tidak ada bandingnya. Dalam hadist qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam dilipatgandakan, dan Allah berfirman tentang puasa:
“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Balasan langsung dari Allah. Tanpa disebutkan batas kelipatannya. Tanpa ukuran angka yang bisa kita bayangkan. Hanya Allah yang tahu.
Maka ketika kita masih diberi umur panjang dan mampu menjalankan puasa, sejatinya kita sedang diberi peluang emas. Peluang menghapus dosa, memperbaiki akhlak, memperbanyak sedekah, menghidupkan malam dengan tarawih dan tilawah. Ramadhan bukan hanya rutinitas, tetapi momentum perubahan.
Nikmat Ramadhan juga terletak pada kebersamaan. Sahur bersama keluarga, berbuka dengan sederhana, saling mengingatkan untuk bangun malam. Ia menumbuhkan empati—karena saat lapar, kita merasakan sedikit dari apa yang dirasakan saudara-saudara kita yang kekurangan.
Namun yang paling indah dari Ramadhan adalah harapan. Harapan bahwa setelah sebulan penuh ditempa, kita keluar sebagai pribadi yang lebih bertakwa. Sebagaimana tujuan yang disebutkan dalam Alquran: “la’allakum tattaqun” — agar kamu bertakwa.
Ramadhan akan berlalu. Ia selalu datang dan pergi. Tetapi tidak ada jaminan kita akan bertemu lagi dengannya tahun depan. Maka jika hari ini kita masih berpuasa, masih mendengar azan magrib sebagai tanda berbuka, masih bisa menengadahkan tangan dalam doa-doa panjang, sungguh itu adalah nikmat yang tak ternilai.
Jangan sia-siakan.
Karena bisa jadi, Ramadhan kali ini adalah kesempatan terakhir yang Allah titipkan kepada kita.
