DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Menghidupkan Ramadhan dengan Tadarus Al-Qur’an

Ilustrasi.

LDII Aceh – Langit Ramadhan selalu terasa berbeda. Angin malamnya sejuk, masjid-masjid kembali penuh, dan di sela-sela rakaat tarawih terdengar lantunan ayat suci yang menenangkan jiwa. Di sudut-sudut rumah, suara pelan orang-orang yang membaca Al-Qur’an seperti suara yang menghidupkan malam. Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi bulan ketika Al-Qur’an didekap, dibaca, dipahami, dan dihidupkan dalam kehidupan.

Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an, “Syahru Ramadhan alladzi unzila fihil Qur’an…” (QS. Al-Baqarah: 185), bahwa Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Ayat ini bukan sekadar informasi sejarah, melainkan pengingat bahwa Ramadhan dan Al-Qur’an adalah dua hal yang tak terpisahkan. Jika Ramadhan adalah tamu agung, maka Al-Qur’an adalah hidangan utamanya.

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam, pedoman hidup yang membimbing manusia dalam setiap aspek kehidupan: ibadah, akhlak, muamalah, hingga cara memandang dunia. Ia bukan sekadar bacaan ritual, melainkan kompas yang menunjukkan arah ketika hidup terasa gelap. Tanpa Al-Qur’an, manusia mudah terombang-ambing oleh hawa nafsu dan arus zaman.

Membaca Al-Qur’an sendiri memiliki keutamaan yang luar biasa. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim satu huruf” (HR. Tirmidzi). Bayangkan, satu huruf saja bernilai sepuluh kebaikan. Lalu bagaimana dengan satu halaman? Satu juz? Satu khatam?

Keutamaan itu semakin berlipat ganda di bulan Ramadhan. Para ulama menjelaskan bahwa setiap amal saleh di bulan ini dilipatgandakan pahalanya. Ramadhan adalah musim panen pahala. Maka tadarus Al-Qur’an—membaca, menyimak, dan saling mengoreksi bacaan—menjadi amalan yang sangat dianjurkan. Di banyak masjid, orang-orang berlomba menyelesaikan 30 juz dalam sebulan. Ada yang satu kali khatam, ada yang dua kali, bahkan lebih.

Rasulullah SAW sendiri memberikan teladan. Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa setiap Ramadhan, Malaikat Jibril datang untuk mudarasah (menderes) Al-Qur’an bersama Nabi. Pada tahun wafatnya, Rasulullah menderes Al-Qur’an dua kali bersama Jibril. Tradisi tadarus yang kita kenal hari ini berakar dari kebiasaan Nabi yang mulia tersebut. Jika manusia terbaik saja mengulang dan mengkaji Al-Qur’an setiap Ramadhan, bagaimana dengan kita?

Selain pahala, membaca Al-Qur’an menghadirkan ketenangan jiwa. Allah berfirman, “Alaa bidzikrillahi tathma’innul qulub” (QS. Ar-Ra’d: 28), “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” Membaca Al-Qur’an adalah bagian dari zikir yang paling utama. Banyak orang merasakan bahwa ayat-ayat suci seakan berbicara langsung pada kegelisahan mereka, memberi jawaban atas doa-doa yang tak terucap.

Namun, di balik keutamaannya, ada pula peringatan keras bagi mereka yang meninggalkan Al-Qur’an. Allah mengabadikan keluhan Rasulullah SAW dalam firman-Nya, “Ya Rabbku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan” (QS. Al-Furqan: 30). Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi juga tidak mentadabburi, tidak mengamalkan, dan tidak menjadikannya pedoman hidup.

Betapa meruginya seseorang yang Ramadhannya berlalu tanpa sentuhan Al-Qur’an. Siang sibuk dengan urusan dunia, malam lelah dengan hiburan, sementara mushaf tetap tertutup berdebu di rak. Padahal Al-Qur’an akan menjadi syafaat bagi pembacanya di hari kiamat, sebagaimana sabda Nabi, “Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya” (HR. Muslim).

Tadarus bukan hanya tentang target khatam, melainkan tentang membangun kembali hubungan dengan Allah. Setiap ayat yang dibaca adalah janji yang diulang, nasihat yang dihidupkan, dan cahaya yang dinyalakan dalam hati. Di bulan Ramadhan, ketika pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, membaca Al-Qur’an menjadi jalan untuk mendekat pada rahmat-Nya.

Ramadhan akan berlalu, seperti tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya, apakah Al-Qur’an akan kembali kita tinggalkan setelahnya? Ataukah Ramadhan ini menjadi titik balik, menjadikan Al-Qur’an sahabat setia sepanjang tahun?

Malam ini, mungkin suara tadarus kembali terdengar dari masjid terdekat. Mungkin di rumah, ada mushaf yang menunggu untuk dibuka. Jangan tunda. Sebab setiap huruf yang kita baca adalah cahaya. Dan di tengah gelapnya zaman, kita semua membutuhkan cahaya itu.

Related posts

Leave a Comment