
Jakarta, (31/3) – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) X, Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DPP LDII) melakukan audiensi dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Pertemuan tersebut membahas pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan Islam dalam memperkuat kebudayaan nasional.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Senin (31/3), DPP LDII memaparkan sejumlah program kerja yang berfokus pada pendidikan karakter dan pembangunan sumber daya manusia. Selain itu, LDII juga mengundang Fadli Zon untuk menjadi narasumber dalam Munas X yang dijadwalkan berlangsung pada 7–9 April 2026.
Secara tidak langsung, Fadli Zon menekankan bahwa keterlibatan berbagai elemen masyarakat sangat dibutuhkan dalam memajukan kebudayaan Indonesia. Ia menilai ormas Islam memiliki posisi strategis dalam menjaga sekaligus mengembangkan nilai-nilai budaya bangsa.
“Kementerian Kebudayaan berharap semua unsur dan institusi dapat turut memajukan kebudayaan nasional secara bersama-sama, termasuk lembaga-lembaga ormas seperti LDII,” ujar Fadli Zon.
Lebih lanjut, ia juga mengungkapkan rencana untuk memperkuat kerja sama dengan LDII, terutama karena organisasi tersebut memiliki jaringan pendidikan yang luas, mulai dari pondok pesantren hingga lembaga pendidikan formal.
“LDII memiliki pondok pesantren, perguruan tinggi, SMA, SMK, hingga tingkat SD. Kami membutuhkan kolaborasi semua pihak untuk memajukan kebudayaan Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Umum DPP LDII, KH Chriswanto Santoso, menjelaskan bahwa Munas X tidak hanya menjadi forum konsolidasi internal organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk merespons dinamika global yang semakin kompleks.
Ia menuturkan bahwa perubahan geopolitik dan geoekonomi dunia, termasuk konflik di kawasan Timur Tengah, turut memberi dampak terhadap Indonesia. Oleh sebab itu, LDII mengangkat tema ketahanan dalam menghadapi tantangan global sebagai fokus utama Munas.
“Kita ketahui bahwa lingkungan strategis global, baik dari sisi geopolitik maupun geoekonomi, telah mengalami perubahan. Konflik di kawasan Timur Tengah turut memberikan dampak terhadap Indonesia,” ujarnya.
Chriswanto menambahkan bahwa konsep ketahanan yang diusung tidak hanya terbatas pada aspek fisik, tetapi juga mencakup ketahanan pangan, energi, mental, dan kebangsaan. Ia menekankan pentingnya membangun ketahanan moral melalui pendekatan kebudayaan.
“Salah satunya adalah membangun ketahanan moral melalui kebudayaan. Karena itu, kami menghadirkan Menteri Kebudayaan sebagai narasumber,” jelasnya.
Audiensi tersebut juga dihadiri sejumlah pengurus DPP LDII lainnya, di antaranya Singgih Tri Sulistyono, Wahjoe Setiono, Tri Gunawan Hadi, serta Netti Herawati, yang turut mendukung penguatan sinergi antara LDII dan pemerintah di bidang kebudayaan dan pendidikan.
