DPW LDII Provinsi Aceh
Nasehat

Nikah Yes, Pacaran No

Ilustrasi.

LDII Aceh – Di zaman ketika cinta sering diukur dari seberapa cepat pesan dibalas dan seberapa sering foto berdua diunggah, ada satu pertanyaan sederhana yang jarang diajukan dengan jujur: ke mana arah hubungan ini akan dibawa? Banyak yang memulai dengan niat “sekadar saling mengenal”, namun tak sedikit yang berakhir pada luka, penyesalan, bahkan pelanggaran batas yang semula tak pernah direncanakan. Di sinilah konsep “Nikah Yes, Pacaran No” hadir bukan sebagai larangan kaku, melainkan sebagai jalan menjaga cinta tetap bermartabat.

Islam memandang cinta sebagai fitrah. Rasa tertarik, kagum, dan ingin memiliki adalah hal yang manusiawi. Namun Islam juga mengajarkan bahwa fitrah perlu diarahkan, bukan dibiarkan liar. Karena cinta yang tak dijaga, sering kali berubah menjadi jebakan yang menyesatkan. Maka Islam menawarkan solusi yang jujur dan jelas: menikah.

Menikah adalah ikatan halal yang mengangkat hubungan dua insan dari sekadar rasa menjadi ibadah. Dalam pernikahan, cinta tidak hanya soal perasaan, tetapi juga tanggung jawab, komitmen, dan keberkahan. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa pernikahan bukan sekadar pilihan romantis, tetapi juga benteng moral. Ia menjaga pandangan, mengendalikan hawa nafsu, dan menuntun cinta agar tidak melampaui batas.

Sebaliknya, pacaran—sebagaimana praktik yang umum terjadi—sering kali menempatkan dua orang dalam ruang abu-abu. Tidak halal, tapi juga tidak sepenuhnya terlarang secara eksplisit di awal. Masalahnya, ruang abu-abu inilah yang paling berbahaya. Dari obrolan ringan, tumbuh keterikatan emosional. Dari pertemuan biasa, muncul sentuhan. Dari rasa nyaman, lahir keberanian melanggar batas.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan:

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)

Perhatikan kata “jangan mendekati”. Artinya, Islam tidak hanya melarang zina sebagai perbuatan akhir, tetapi juga segala jalan yang mengarah ke sana. Pacaran yang melibatkan khalwat (berdua-duaan), rayuan, sentuhan, dan keterikatan emosional tanpa ikatan halal, termasuk pintu-pintu yang perlahan membuka jalan ke arah yang diharamkan.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan:

“Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan kecuali yang ketiganya adalah setan.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi menyadarkan. Ketika dua insan yang saling tertarik dibiarkan berdua tanpa batas syariat, godaan tidak lagi di luar, melainkan di antara mereka sendiri.

Konsep Nikah Yes, Pacaran No bukan berarti menutup mata dari proses ta’aruf atau saling mengenal. Islam tidak melarang mengenal calon pasangan. Yang dilarang adalah mengenal dengan cara yang melanggar batas. Ta’aruf hadir sebagai jalan tengah: mengenal dengan adab, melibatkan keluarga, menjaga kehormatan, dan mengedepankan niat ibadah.

Cinta yang halal tidak membuat gelisah. Ia menenangkan. Tidak dipenuhi rasa takut ketahuan, tidak diselimuti rasa bersalah. Justru sebaliknya, cinta dalam pernikahan mengundang doa malaikat, bukan bisikan setan. Setiap kebersamaan bernilai pahala, setiap pengorbanan bernilai ibadah.

Banyak yang menunda menikah dengan alasan belum siap secara ekonomi atau mental. Islam pun realistis. Menikah memang butuh kesiapan. Namun Islam juga mengajarkan bahwa rezeki bukan semata hasil perhitungan, melainkan karunia Allah. Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya.”
(QS. An-Nur: 32)

Ayat ini bukan janji kosong, melainkan penegasan bahwa niat baik yang ditempuh dengan cara halal tidak akan ditelantarkan oleh Allah.

Nikah Yes, Pacaran No adalah pilihan keberanian. Berani menahan diri di tengah arus. Berani berbeda demi menjaga kehormatan. Berani menunggu dengan cara yang benar, daripada cepat namun berujung penyesalan. Cinta sejati bukan yang paling lama pacarannya, tetapi yang paling kuat menjaga batas sebelum akad.

Related posts

Leave a Comment