
LDII Aceh – Ada kalanya hidup terasa begitu ramai, tetapi hati justru sunyi. Aktivitas berderet tanpa jeda, notifikasi bersahut-sahutan, dan target demi target menunggu untuk dituntaskan. Namun di tengah hiruk-pikuk itu, sering kali kita lupa pada satu hal paling mendasar: mengingat Allah. Padahal, di sanalah letak hidup yang sesungguhnya. Bukan pada banyaknya gerak, tetapi pada hadirnya Allah dalam setiap denyut langkah.
Ingat Allah bukan sekadar lafaz yang terucap di lisan. Ia adalah kesadaran yang menetap di hati, yang menuntun pikiran, dan mengarahkan perbuatan. Ketika seseorang mengingat Allah, ia sedang mengikat jiwanya dengan sumber ketenangan yang tak pernah kering. Allah Ta‘ala berfirman,
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. ar-Ra‘d: 28)
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan kepastian. Ketenangan sejati tidak lahir dari kelimpahan dunia, tetapi dari kedekatan dengan Allah. Sebab hati diciptakan untuk mengenal dan mengingat-Nya.
Dan ketahuilah bahwa zikir kepada Allah termasuk ibadah yang paling mulia, paling ringan untuk dikerjakan, dan paling besar pahalanya. Ia tidak membutuhkan tempat khusus, tidak pula waktu tertentu. Dalam berdiri, duduk, berjalan, bahkan di tengah kesibukan, zikir dapat terus hidup. Maka jadilah kalian termasuk orang-orang yang banyak berzikir kepada Allah, dan berhati-hatilah kalian dengan sangat dari kelalaian mengingat Allah سبحانه.
Rasulullah ﷺ memberikan gambaran yang begitu tegas tentang pentingnya zikir. Beliau bersabda:
“Perumpamaan orang yang mengingat Rabb-nya dan orang yang tidak mengingat Rabb-nya adalah seperti orang hidup dan orang mati.”
(HR. al-Bukhari)
Hadis ini menyadarkan kita bahwa lalai dari zikir bukan sekadar kekurangan ibadah, melainkan tanda matinya hati. Tubuh boleh bergerak, tetapi jiwa kehilangan ruhnya. Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan kita untuk hidup, tetapi untuk benar-benar hidup.
Dan hidupkanlah waktu-waktu kalian, rumah-rumah kalian, majelis-majelis kalian, dan kendaraan-kendaraan kalian dengan mengingat-Nya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah suatu kaum duduk di suatu majelis, lalu mereka berpisah darinya tanpa mengingat Allah di dalamnya, kecuali mereka berpisah seperti dari bangkai keledai, dan hal itu akan menjadi penyesalan bagi mereka pada hari kiamat.”
(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Betapa ruginya sebuah pertemuan yang kaya tawa namun miskin zikir. Betapa kosongnya waktu yang berlalu tanpa menyebut nama Allah. Zikir adalah ruh bagi setiap aktivitas, penentu apakah ia bernilai ibadah atau sekadar rutinitas yang berlalu tanpa makna.
“Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya zikir kepada Allah Ta‘ala memiliki keutamaan yang sangat besar dan manfaat yang banyak, yang kembali kepada orang yang berzikir dalam urusan agama maupun dunianya.” Salah satu keutamaannya adalah zikir mewariskan ketenangan jiwa dan ketenteraman hati. Hati yang dipenuhi zikir tidak mudah goyah oleh gelombang masalah, karena ia bersandar kepada Yang Maha Mengatur segalanya.
Lebih dari itu, Allah akan mengingat orang yang mengingat-Nya. Suatu kemuliaan yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Allah Ta‘ala berfirman:
“Maka ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian mengingkari-Ku.”
(QS. al-Baqarah: 152)
Bayangkan, ketika seorang hamba yang lemah menyebut nama Allah, maka Allah Yang Mahakuasa mengingatnya. Dia bersamanya dengan pertolongan dan penjagaan, selama lisannya basah dengan zikir kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ menyampaikan hadis qudsi yang sarat dengan kasih sayang Allah:
“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di tengah suatu kumpulan, Aku mengingatnya di tengah kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini adalah undangan cinta. Bahwa setiap langkah kecil menuju Allah akan disambut dengan rahmat yang berlipat. Zikir bukan sekadar kewajiban, melainkan jalan untuk merasakan kehadiran Allah dalam hidup.
Maka di tengah dunia yang kian bising, marilah kita memilih untuk menghidupkan hati dengan mengingat Allah. Menjadikan zikir sebagai nafas harian, sebagai penguat saat lemah, dan penuntun saat bingung. Karena sejatinya, hidup yang paling hidup adalah hidup yang dipenuhi dengan mengingat-Nya.
