
LDII Aceh – Malam kadang terasa sunyi, tetapi justru di saat itulah kegelisahan sering datang tanpa permisi. Ketakutan akan masa depan, rezeki, jabatan, penilaian manusia, hingga ancaman kehilangan, pelan-pelan menggerogoti hati. Banyak orang merasa kuat karena harta, relasi, atau kekuasaan, namun diam-diam rapuh ketika semua itu terancam hilang. Di titik inilah iman diuji: kepada siapa sebenarnya rasa takut itu bermuara? Kepada manusia, keadaan, atau kepada Allah semata?
Islam mengajarkan satu prinsip agung yang menenangkan jiwa: takutlah hanya kepada Allah. Sebab, tidak ada kekuatan dan upaya apa pun kecuali milik-Nya. Kalimat laa haula wa laa quwwata illa billah bukan sekadar wirid di lisan, tetapi fondasi keyakinan yang menguatkan hati. Manusia boleh berikhtiar, boleh berencana, namun hasil akhir sepenuhnya berada dalam genggaman Allah.
Al-Qur’an menegaskan, “Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang mukmin bertawakal” (QS. Ibrahim: 11). Ayat ini menjadi pengingat bahwa ketakutan yang berlebihan kepada selain Allah justru melemahkan iman. Ketika rasa takut diarahkan kepada makhluk, manusia akan mudah goyah. Namun saat rasa takut itu lurus kepada Allah, hati menjadi kokoh, karena ia bersandar kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Kisah Nabi Musa ‘alaihis salam menjadi teladan nyata. Ketika dikejar Fir’aun dan bala tentaranya, di depan terbentang Laut Merah, sementara di belakang ancaman kematian semakin dekat. Secara logika manusia, situasi itu adalah akhir segalanya. Bahkan para pengikut Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul” (QS. Asy-Syu’ara: 61). Namun Nabi Musa menjawab dengan keyakinan yang mengguncang langit, “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. Asy-Syu’ara: 62). Laut pun terbelah, jalan keselamatan terbuka, dan Fir’aun binasa. Kisah ini mengajarkan bahwa ketika manusia berada di ujung ketidakmampuan, di situlah pertolongan Allah hadir.
Rasulullah ﷺ juga menunjukkan makna takut hanya kepada Allah dalam hijrah. Saat beliau dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur, musuh berada sangat dekat hingga Abu Bakar merasa khawatir. Namun Nabi ﷺ menenangkan sahabatnya dengan sabda yang diabadikan Al-Qur’an, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” (QS. At-Taubah: 40). Ketakutan manusiawi ada, tetapi keyakinan kepada pertolongan Allah jauh lebih besar. Dari gua sempit itulah lahir peradaban besar Islam.
Dalam hadis riwayat Tirmidzi, Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ibnu Abbas, “Ketahuilah, seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali yang telah Allah tetapkan. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali yang telah Allah tetapkan atasmu.” Hadis ini menegaskan bahwa sumber kekuatan dan bahaya bukanlah manusia, melainkan Allah semata.
Takut kepada Allah bukan berarti hidup pasif dan menyerah pada keadaan. Justru rasa takut itu melahirkan keberanian. Orang yang takut kepada Allah tidak takut kehilangan dunia, karena ia yakin rezeki telah diatur. Ia tidak takut celaan manusia, karena yang paling ia jaga adalah ridha Rabb-nya. Allah berfirman, “Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka” (QS. At-Thalaq: 2–3).
Di zaman sekarang, rasa takut sering disandarkan pada hal-hal semu: opini publik, media sosial, atasan, atau kekuatan materi. Padahal semua itu lemah di hadapan kehendak Allah. Ketika hati kembali menyadari bahwa tidak ada daya dan upaya kecuali milik Allah, hidup menjadi lebih ringan. Gagal tidak membuat putus asa, berhasil tidak melahirkan kesombongan. Semuanya dipandang sebagai takdir yang sarat hikmah.
Iman mengajarkan kita satu keberanian hakiki: berani berserah. Berani percaya bahwa Allah Maha Mengatur, Maha Menolong, dan Maha Adil. Ketika rasa takut hanya tertuju kepada-Nya, manusia justru menemukan kedamaian sejati. Sebab, siapa pun yang bersama Allah, tidak akan pernah benar-benar sendirian.
